Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 13 JULI 2026 • 12:38 WIB

Panduan Islam dalam Memilih Sahabat Dekat

Panduan Islam dalam Memilih Sahabat DekatPanduan memilih sahabat menurut Islam (Istimewa)

GORONTALO — Kualitas ketakutan dan ketaatan beragama seorang Muslim ternyata sangat ditentukan oleh siapa saja orang yang berada di lingkaran pergaulan terdekatnya.

Pesan penting mengenai religiusitas tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Niki Alma Febriana Fauzi.

Dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, ia mengingatkan jamaah agar tidak sembarangan dalam menyeleksi teman karib.

Baca juga: Panduan Membuat Tiliaya, Kuliner Tradisional Warisan Bangsawan dari Ranah Gorontalo

Sebagai makhluk sosial, setiap individu secara kodrat alamiah pasti akan membangun interaksi dan membentuk kelompok pertemanan.

Oleh karena itu, syariat Islam memberikan perhatian yang sangat serius terkait kriteria individu yang layak dijadikan sebagai orang kepercayaan.

Hadis Nabi Mengenai Kecenderungan Karakter Manusia

Niki menegaskan bahwa urusan mencari teman dekat bukanlah perkara sepele melainkan bagian dari tuntunan iman yang mutlak.

Baca juga: Ketidaktahuan Pemilik Toko Jadi Celah Korporasi Pasang Reklame Ilegal di Kota Gorontalo

Untuk memperkuat argumennya, ia menyitir sebuah hadis sahih yang diriwayatkan langsung oleh sahabat Abu Hurairah mengenai dampak perilaku sosial.

"Al-mar’u ‘alā dīni khalīlihi fal yanzhur aḥadukum man yukhālil.” Artinya, “Seseorang mengikuti agama sahabat dekatnya. Karena itu hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang dijadikan sahabat.”

Secara psikologis, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk berkumpul dengan sesama individu yang mempunyai kesamaan hobi atau visi hidup.

Baca juga: Peringkat 1-4 FIFA Bentrok di Semifinal Piala Dunia 2026, Berikut Jadwalnya

Fenomena ketertarikan sosial yang seragam ini juga telah diprediksi secara tepat oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya yang lain.

“Al-arwāḥu junūdun mujannadah, famā ta’ārafa minhā i’talafa wa mā tanākara minhā ikhtalafa.” Artinya, “Ruh-ruh manusia itu laksana pasukan yang dihimpun. Yang saling mengenal akan saling menyatu, sedangkan yang saling bertolak belakang akan berpisah.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Muhammadiyah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Panduan Islam dalam Memilih Sahabat Dekat

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!