GORONTALO — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa, meminta masyarakat luas untuk mendeteksi gejala awal kusta secara cepat.
Tak cuma itu, ia juga meminta warga tidak lagi mengaitkan kusta dengan mitos kutukan.
Pernyataan penting tersebut disampaikan setelah menghadiri agenda Konferensi Nasional Kusta 2026.
Baca juga: Sama-sama Alumni SMA N 3 Jakarta, Erick Thohir Ungkapan Duka Mendalam atas Wafatnya Rachmat Gobel
Acara tersebut berlangsung di Puri Agung Convention Hall, Hotel Grand Sahid Jaya, Jumat, 10 Juli 2026.
Dalam forum nasional Anang memaparkan dua masalah utama yang hingga kini masih mengganjal upaya penanganan kusta di daerah.
"Saat ini yang jadi problem itu pertama soal stigma (kutukan) tadi. Kemudian yang kedua pengobatannya, itu membutuhkan waktu yang lama 6 bulan sampai 1 tahun,” kata Anang.
Baca juga: Gorontalo Berduka, Rachmat Gobel Tutup Usia
Menurut penjelasan medisnya, indikasi awal dari penyakit kusta biasanya berupa kemunculan bercak putih di permukaan kulit yang sayangnya kerap diabaikan oleh masyarakat karena mirip panu biasa.
Kelalaian dalam mengenali tanda awal ini dinilai sangat berisiko karena dapat memicu perburukan kondisi kesehatan pasien ke tingkat yang jauh lebih parah.
Secara klasifikasi medis, penyakit menular menahun ini terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu jenis kusta kering dan kusta basah.
Baca juga: Negara-negara Pabrik Gol dalam Satu Piala Dunia
Penanganan terhadap tipe kusta kering menuntut kewaspadaan tinggi karena jenis ini berpotensi besar berubah menjadi tipe kusta basah apabila penderita lalai dalam menuntaskan masa pengobatan.
Oleh karena itu, keterlibatan aktif dari lingkungan terdekat dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pemulihan para pasien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo