Senin, 27 JULI 2026 • 11:19 WIB

Mengenal 15 Jenis Sastra Lisan Gorontalo Beserta Contohnya

Author

Bantayo Poboide, rumah ada di Kabupaten Gorontalo (Celebes.co)

GORONTALOProvinsi Gorontalo menyimpan kekayaan budaya berupa tradisi tutur lisan atau sastra lisan yang sangat beragam.

Kekayaan seni tradisional ini patut dibanggakan karena memuat nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur.

Dikutip dari buku Ensiklopedia Tokoh Sastra Daerah Gorontalo, ada 15 jenis sastra lisan khas Gorontalo. 

Baca juga: Meme Politik Jadi Senjata Kritis Gen Z dan Milenial di Media Sosial

15 Jenis Sastra Lisan Gorontalo

15 sastra lisan Gorontalo dibagi menjadi enam bentuk penggunaannya. 

Ada puisi adat, puisi yang berhubungan dengan filsafat dan pandangan hidup, puisi pergaulan, puisi yang berisi sejarah,

bentuk prosa, yang meliputi ragam-ragam dongeng, dan bentuk cerita yang dilagukan dalam upacara Isra dan Mikraj Nabi Muhammad saw.

Baca juga: Kominfo Gorontalo Bagi Tips agar Terhindar dari Penipuan Digital

Di antara 15 sastra lisan ini ada yang masih hidup sampai sekarang, ada yang sudah jarang digunakan, bahkan ada yang terancam punah.

Berikut ini penjelasan 15 jenis sastra lisan khas Provinsi Gorontalo.

1. Tuja'i

Tuja’i merupakan puisi pengiring upacara adat perkawinan, penobatan, hingga peringatan perayaan Maulid Nabi.

Baca juga: Cara Mudah Laporkan Kekerasan Seksual di Sekolah Lewat WhatsApp dan Situs Resmi Kemenag

Contoh lirik tuja'i:

Banta tupalo lomayi (Tuanku masuklah

Tupalayi to dutula (Masuklah ke negeri)

Taluhu huwa buluwa (Laksana air dalam tabung)

Malo lo liyatua (Telah bersatu padu)

Banta tupalayi (Tuanku masuklah)

Tupalayi to dutula (Masuklah ke negeri)

Taluhu huwa buluwa (Seperti air dalam tabung)

Malo liyatuwa (Telah bersatu padu)

Lo tutayi lo popalo (Silakan masuk)

To delomo Lintalo (di dalam negeri)

Banta tupalayi (Tuanku masuklah)

Taluhu huwa buluwa (Seperti air dalam tabung)

Malo liyatua (Telah bersatu padu)

Lo tulayi lo popalo (Silakan masuk)

To delomo Lintalo (Di dalam negeri)

Bo’odelo tima ipitalo (Laksana timah dibersihkan)

Bo’odelo pini bubo’alo (Seperti kapas dicuci)

Bo’odelo tomula popalo (Seperti bambu menguning)

Bo’odelo hulawa putalo (Laksana emas murni)

Banta payu bulayi (Tuanku bangsawan mulia)

Wahu polengge lo mayi (Naiklah kemari)

Wahu layi’olomayi (Bergeraklah ke sini)

Layi’ayi odiya (Datanglah ke sini)

Pu’ade malo sadiya (Singgasana telah tersedia)

U wolo banta mulia (Untuk Tuanku yang mulia)

Bubato hihadiriya (Para pejabat telah hadir)

Banta Pulu Lo Hunggia (Tuanku bangsawan negeri)

Malo to Dulahe botia (Pada hari ini juga)

Banta ma toduwolo (Tuanku dipersilakan)

Wawu motitihulo’olo (dan diundang duduk)

To Pu’ade wajalolo (Pada kedudukan yang mulia)

Eyanggu (Tuanku)

Eyanggu, Eyanggu, (Tuanku, Tuanku)

Eyanggu (Tuanku)

Maa yilo limomotama’o (Sudah sempurnalah)

Aadati pilololimo (Adat Penyambutan)

lo Ito Eya (kepada Tuanku)

Maa motitingole wau (Beristirahat dan bersiramlah)

Ito Eyanggu (Tuanku)

Salalahu Alayihi Wasallam

2. Pale Bohu

Kesenian tutur yang kedua dikenal luas dengan nama pale bohu.

Pale bohu berisi puisi adat berupa untaian nasihat bijak bagi pasangan yang baru melangsungkan pernikahan.

Contoh lantunan pale bohu:

Banta potota:la (ananda saling menjaga)

motolodile sodala (suami istri bersatu)

diila pohama lo’ia (jangan dengarkan perkataan)

to dala (di jalan)

bolo woluo u tala (kalau ada yang salah)

toyunuta to wala (katakan terus terang)

humaya moliliyola (kalau ada kekhilafan)

mopio mobu:lola (baik saling memaafkan)

Hadisi di”la otola,(hadits jangan ditinggalkan)

palamani pomontola (firman dijadikan hukum)

iba:dati po’olotola (ibadat diperkuat)

3. Tinilo

Ragam sastra lisan yang ketiga adalah tinilo, yang berbentuk puisi sanjungan dan doa yang dilagukan secara bersama-sama dalam perayaan akikah maupun pernikahan.

Bait tinilo biasanya diawali dengan lirik "Bisimillah monga:turu" sebagai bentuk puji-pujian tertinggi kepada Tuhan.

Contoh tinilo:

Bisimillah monga:turu (Dengan nama Allah yang 

maha suci)

Kudurati lonto Allah (Kebenaran dari Allah)

Jaddah bitakwallah (Didapat kalau takut kepada 

Allah)

Akuramu indallah (Maha mulis di sisi Allah)

Bada: bismillah (Memulai dengan nama 

Allah)

Sya’iri Alhamdulillah (Syair itu memuji kepada 

Allah)

Wolo du’a sailillah (Dengan doa tiap-tiap 

karena Allah)

Tawakkal Illah billah (Kita menyerah diri kepada 

Allah)

Dile banta wombu kasia (Istri, anak, dan cucu 

tersayang)

Hi yolola hi tabia (Bersedih hati dan 

mengenang)

Didu:lu ta o hidia (Yang menyayangi sudah 

tiada)

Lo nguli ode asali (Telah kembali ke asal)

Banta wopato umirati (Anak perempuan empat 

bersaudara)

Banta moluhengo totola (Anak mantu tiga)

u la’i (laki-laki)

Hiyolola lo si:pati (Bersedih hati yang paling 

dalam)

Ti pa:pa malo wapati (Ayahanda tercinta telah 

wafat)

4. Mala-mala

Karya sastra lisan keempat bernama mala-mala, yang merupakan puisi berbentuk seruan tegas untuk menyampaikan sebuah maklumat kepada khalayak ramai.

Contoh seruan mala-mala:

Utia mo mala-mala (Saya berseru)

bangima’o bangi (bukalah buka)

bangima’o dalalo (bukalah jalan)

hiangima’o hiangi (menyingkirlah menyingkir)

hiangima’o dalalo (menyingkirlah dari jalan)

wau popobotulalo (dan naikkanlah)

bulentiti humawalo (pengantin yang gagah)

5. Taleningo

Taleningo berfungsi sebagai pedoman hidup yang membahas siklus kelahiran, kematian, hingga persiapan menuju alam akhirat.

Contoh pesan taleningo:

Donggo to a:lamu arua (Masih di alam arwah)

nyawa yilota:lua (nyawa menghadap)

u modihu ngakua,(untuk memegang janji)

ode lipu osabua (ke dunia yang fana ini)

de’uwito a:lamu (yaitu alam)

timua’ato batangamu (tempat asal jasadmu)

wajibu otawamu (wajib kau ketahui)

dahai olipatamu,(janganlah kau lupakan)

6. Leningo

Leningo memuat pepatah arif untuk menegur tingkah laku buruk seseorang agar kembali mematuhi norma sosial.

Ungkapan leningo "P’i’ili lo dudangata" sering dipakai untuk menyindir sifat serakah yang gemar mengambil keuntungan sendiri.

Contoh leningo:

P’i’ili lo dudangata (Perangai parutan)

mohama mohangata (mengambil menyisihkan)

pi’ili lo u’ailo (perangai kail)

mongaito mongabito (mengait mencantol)

Makna,dari syair di ataaselalu suka mengambil keuntungan untuk diri sendiri seperti korupsi.

7. Lumadu

Lumadu dapat berbentuk teka-teki pengasah otak maupun kiasan halus untuk menghormati lawan bicara.

Contoh teka-teki lumadu:

Dutu-dutu lambutalo (Terletak berambut)

dengetalo duhualo (digigit berdarah)

Jawabannya adalah: Onde-onde

8. Bungga 

Bungga adalah puisi pembangkit semangat bergotong royong yang dipandu langsung oleh seorang dalang bernama talenga.

Lantunan bungga kerap dihiasi dengan seruan heroik "O waiyo-waiyo" yang mengajak para pekerja untuk terus melangkah bersama.

Wuni-wuninya didi’u, (Wuni-wuni adikku)

u teya mola (yang di sana)

u hewawolo’u (yang kutenun)

u bo wohi’u (yang hanya kuberikan)

u de olemu (yang kepadamu)

u buhuto’u (yang kuikatkan)

u bulo’omu (yang di lehermu)

U yimaipo (Yang tunggulah)

u teto mola (yang di sebelah sana)

u to huludio (yang di ujungnya)

u to datahi’o (yang di datarannya)

u to bawangi’o (yang di lembahnya)

u to tilayoli’o (yang di udiknya)

u to huliyali’o (yang di muaranya)

u to tuduli’o (yang di puncaknya)

u to biwihi’o (yang di kakinya)

O waiyo-waiyo (Hai, marilah-marilah)

o waiyo-waiyo (hai marilah-marilah)

o waiyo-waiyo (hai marilah-marilah)

9. Bunito 

Bunito merupakan puisi mantra magis yang diucapkan langsung oleh seorang pencerita sakti bernama wombua.

Mantra tradisional ini dahulunya sering dilafalkan dalam ritual pertanian maupun persiapan menuju medan perang.

10. Lohidu

Lohidu adalah seni berbalas pantun jenaka yang murni diungkapkan menggunakan bahasa asli Gorontalo.

Contoh lohidu:

Wa’u lonto leyato (Aku dari Leyato)

Donggo lo de bulontiyo (lagi hendak ke Bulontiyo)

Dungohi mongowutato (dengarlah saudara)

Malo odia susa lio (hidupku sangat susah)

Lo’i tali ngante-ngante (minta dibelikan anting-

anting)

Bome pilongoitiyo (diberitahu dengan 

mencolek)

Doi dila lo’osambe (karena uang tidak cukup)

Uwito tete’iyo (larilah dia)

Bite-bite to deheto (berlayar di laut)

Lo’o hudu mola binte (sempat memberikan jagung)

Banari lo hile leto (benar minta sapu tangan)

Leto tarapu lo pingge (sapu tangan dari sorbet)

Hutawara lo Tabongo (angin Utara ke Tabongo)

Mayilaba dupotio (sungguh berangin)

Lumangge lo humoyongo (sungguh menangisnya)

Mo’ela mai olio (mengingat si dia)

11. Pa:ntungi

Pa:ntungi memiliki ciri serupa dengan lohidu, tapi dibawakan menggunakan perpaduan bahasa Melayu.

Contoh pa:ntungi:

Dari Bandung ke Suka Bumi,

singgah di Bogor terus ke Bali,

tengahlah malam gambus berbunyi,

orang yang tidur bangun kembali.

Pasanglah minyak tapisan,

kalau tiada biaralah pelita,

mati semut karena manisan,

mati pemuda karena cinta.

Aduhai teman selamat jalan,

Berikan dulu berjabatan tangan,

Kenangkan ingat lupakan jangan,

Di mata hilang di hati jangan.

Pakai cincin di jari manis,

pakai gelang di tangan kiri,

tengahlah malam bangun menangis,

mengingat nona, tidur sendiri.

Penutup

Wanu wa’u o tabimu (kalau aku kau cintai)

tulade to poyonggimu (tuliskan aku di pinggangmu)

wonu ito ma dulota (kalau kita sudah berdua)

tulade wa’u to bungolopa (tuliskan aku di pahamu)

12. Tanggomo

Tanggomo merupakan puisi naratif epik yang menceritakan berbagai peristiwa sejarah nyata maupun kisah kepahlawanan daerah.

Contoh tanggomo:

Bisimilla momulai (Memulai dengan nama 

Allah)

watia modelo mai (saya akan membawakan)

u he dilutola mai (yang telah diderita)

lo mongotiombu mai (oleh leluhur kita)

13. Wungguli

Wungguli adalah cerita prosa yang membeberkan riwayat dan silsilah tokoh nyata dari kalangan warga biasa hingga raja.

14. Pi:lu

Pi:lu menyajikan prosa fiksi penuh keajaiban tentang makhluk luar biasa yang merupakan hasil rekaan murni sang pencerita.

15. Me’eraji

Me’eraji merupakan naskah keagamaan bernuansa Islam yang selalu dibacakan pada setiap peringatan peristiwa Isra Mikraj.

Kelima belas tradisi lisan ini menjadi identitas kultural Gorontalo yang harus terus dijaga eksistensinya oleh generasi muda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ensiklopedia Tokoh Sastra Daerah Gorontalo

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU