GORONTALO — Momen Hari Raya Iduladha selalu lekat dengan tradisi menyantap hidangan berbahan dasar daging kurban bersama keluarga.
Aneka olahan menggugah selera seperti sate, gulai, tongseng, hingga rendang biasanya tersaji di meja makan dan dikonsumsi dalam porsi yang lebih besar dari hari-hari biasa.
Namun, di balik kelezatan menu-menu tersebut, Anda perlu mengontrol diri dan tetap waspada terhadap ancaman lonjakan kadar kolesterol dalam darah akibat konsumsi lemak jenuh secara berlebihan.
Baca juga: Mengenal Karakter Highly Sensitive Child: Ciri-Ciri Anak yang Sangat Perasa
Berdasarkan data medis dari Mayo Clinic dan NHS, kondisi kolesterol tinggi dipicu oleh menumpuknya zat lemak yang terlalu banyak di dalam aliran darah.
Penumpukan ini lambat laun dapat membentuk sumbatan di pembuluh darah.
Sifatnya yang sering kali tidak memunculkan gejala awal yang khas membuat kondisi ini kerap diabaikan, padahal jika dibiarkan tanpa penanganan, risikonya bisa memicu serangan jantung hingga stroke.
Baca juga: Resep Sate Balanga Khas Gorontalo: Kuliner Daging Rempah Tanpa Tusuk yang Menggoda Selera
Mengapa Risiko Kolesterol Meningkat Setelah Iduladha?
Pada dasarnya, kolesterol merupakan senyawa lemak alami di dalam darah yang memiliki fungsi penting untuk mendukung pembentukan sel-sel sehat di dalam tubuh.
Masalah baru akan muncul apabila jumlahnya melebihi batas normal, di mana zat lemak tersebut akan mengendap dan membentuk plak yang menyempitkan jalur aliran darah.
Sajian khas Iduladha dominan menggunakan daging merah, seperti sapi dan kambing, yang secara alami menyimpan kandungan lemak jenuh yang tinggi.
Baca juga: Kabupaten Gorontalo Sabet Opini WTP 16 Kali Beruntun, Jadi Torehan Perdana Duet Sofyan-Tonny
Risiko ini akan semakin berlipat ganda jika daging diolah menggunakan santan kental, digoreng dengan minyak berlebih, atau disajikan bersama makanan pendamping yang manis.
Menurut ulasan dari Harvard Health Publishing, kelompok makanan seperti daging merah, hidangan yang digoreng, daging olahan, serta camilan panggangan (baked goods) merupakan stimulan utama yang dapat mendongkrak kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL) di dalam tubuh.
Selain faktor makanan, melonjaknya kolesterol juga mengintai mereka yang jarang bergerak fisik, memiliki obesitas, merokok, mengonsumsi alkohol, serta dipengaruhi oleh faktor pertambahan usia dan riwayat genetika keluarga.
Tanda-Tanda Tubuh yang Perlu Diwaspadai
Satu hal yang membuat kolesterol tinggi dijuluki sebagai ancaman senyap adalah karena absensinya gejala spesifik pada tahap awal.
Cara paling akurat untuk mengetahuinya hanyalah melalui tes laboratorium sampel darah. Kendati demikian, tubuh biasanya akan mengirimkan beberapa sinyal halus ketika tumpukan lemak mulai mengganggu sistem sirkulasi darah, di antaranya:
Tubuh Gampang Lelah
Pasokan darah dan oksigen yang terhambat akibat sumbatan plak membuat tubuh menjadi cepat lemas dan kehilangan stamina.
Nyeri di Area Dada
Munculnya rasa tidak nyaman atau tekanan di dada akibat menyempitnya pembuluh darah yang mengarah ke organ jantung.
Sering Pusing
Aliran darah ke bagian kepala yang kurang lancar kerap memicu rasa berat dan sakit kepala yang berulang.
Kaku pada Tengkuk dan Bahu
Sensasi pegal atau tegang di otot leher belakang yang sering dikeluhkan usai menyantap makanan tinggi lemak.
Sensasi Kesemutan
Gangguan pada sirkulasi darah perifer yang menyebabkan tangan dan kaki menjadi sering kesemutan.
Sesak Napas
Terjadinya penurunan suplai oksigen ke seluruh tubuh akibat jalur pembuluh darah yang mulai menyempit.
Tekanan Darah Naik
Kondisi pembuluh darah yang kaku dan menyempit memaksa jantung memompa lebih keras, sehingga memicu hipertensi.
Langkah Strategis Menjaga Stabilitas Kolesterol
Menikmati hidangan hari raya tentu tidak dilarang, asalkan Anda berkomitmen untuk menjaga keseimbangan pola makan setelahnya.
Anda bisa menyiasatinya dengan membatasi porsi bagian daging yang berlemak dan lebih memilih potongan daging yang cenderung bersih dari lemak.
Sebagai variasi menu pasca-lebaran, Anda dapat beralih ke sumber protein yang lebih aman untuk jantung seperti ikan, daging ayam tanpa kulit, produk kedelai, atau kacang-kacangan.
Batasi pula metode memasak dengan cara digoreng dalam minyak yang banyak.
Langkah krusial lainnya adalah memperbanyak konsumsi makanan berserat tinggi, seperti sayur-sayuran hijau, buah segar, oat, serta biji-bijian utuh yang efektif membantu mengikat dan membuang kolesterol jahat dari tubuh.
Terakhir, imbangi dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin minimal 30 menit per hari, seperti jalan cepat, jogging, atau bersepeda, guna memicu pertumbuhan kolesterol baik atau High-Density Lipoprotein (HDL) yang berfungsi melindungi jantung Anda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Haibunda