GORONTALO — Setiap anak terlahir dengan keunikan dan karakternya masing-masing.
Di antara berbagai tipe kepribadian, ada sebagian anak yang memiliki kepekaan emosional dan sensorik yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak seusianya.
Dalam dunia psikologi parenting, kondisi ini sering disebut sebagai Highly Sensitive Child (HSC) atau anak yang sangat perasa.
Baca juga: Resep Sate Balanga Khas Gorontalo: Kuliner Daging Rempah Tanpa Tusuk yang Menggoda Selera
Menghadapi anak yang sangat perasa tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Mereka bukanlah anak yang cengeng atau lemah, melainkan anak yang memiliki sistem saraf yang lebih peka dalam menyerap, memproses, dan merasakan stimulasi dari lingkungan sekitarnya.
Untuk membantu para orang tua mengenali dan memahami buah hatinya secara lebih mendalam, berikut adalah beberapa ciri utama anak yang memiliki kepribadian sangat perasa:
Baca juga: Kabupaten Gorontalo Sabet Opini WTP 16 Kali Beruntun, Jadi Torehan Perdana Duet Sofyan-Tonny
1. Memiliki Empati yang Sangat Tinggi
Anak yang perasa memiliki radar emosi yang luar biasa tajam.
Mereka tidak hanya mampu merasakan emosi diri sendiri, tetapi juga sangat mudah menangkap perubahan suasana hati orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua, teman, bahkan karakter dalam buku cerita atau film.
Mereka bisa ikut merasa sedih mendalam saat melihat orang lain menangis atau merasa cemas ketika situasi rumah sedang tegang.
Baca juga: Dua Pemain Diaspora Australia Siap Rampungkan Proses Naturalisasi untuk Bela Timnas Indonesi
2. Sangat Peka Terhadap Stimulasi Sensorik (Fisik)
Kepekaan anak HSC tidak melulu soal perasaan, tetapi juga melibatkan pancaindra.
Mereka sering kali merasa sangat terganggu oleh hal-hal kecil yang dianggap biasa oleh orang lain.
Misalnya, merasa risih atau kesakitan karena label merek pada kerah baju, tidak nyaman dengan tekstur makanan tertentu, hingga sangat sensitif terhadap suara bising, ruangan yang terlalu terang, atau bau yang menyengat.
3. Cenderung Berpikir Mendalam (Deep Processors)
Sebelum melakukan sesuatu atau menjawab pertanyaan, anak yang perasa biasanya akan mengamati situasi dengan saksama.
Mereka adalah tipe pemikir yang mendalam dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang tidak terduga untuk anak seusianya.
Karena sering memproses informasi secara mendalam, mereka juga cenderung lebih berhati-hati dan membutuhkan waktu lebih lama saat harus beradaptasi di lingkungan yang baru.
4. Mudah Merasa Kewalahan
Karena otak dan indra mereka terus-menerus menyerap stimulus tanpa saringan yang tebal, anak yang sangat perasa cenderung lebih cepat kehabisan energi batin.
Setelah seharian beraktivitas di sekolah yang ramai atau menghadiri acara keluarga yang padat, mereka bisa tiba-tiba menjadi sangat rewel, tantrum, atau justru menarik diri.
Ini adalah sinyal bahwa kapasitas emosional mereka sudah penuh dan membutuhkan ruang yang tenang untuk mengisi ulang energi.
5. Sulit Menerima Kritik dan Sangat Perfeksionis
Anak-anak dengan kepribadian ini menaruh standar yang cukup tinggi pada diri mereka sendiri.
Mereka sangat ingin melakukan segala sesuatu dengan benar dan menyenangkan orang lain.
Akibatnya, ketika mereka melakukan kesalahan kecil atau menerima teguran (meskipun disampaikan dengan lembut), mereka akan meresponsnya dengan perasaan bersalah atau sedih yang sangat mendalam.
Catatan untuk Orang Tua
Mengasuh anak yang sangat perasa adalah sebuah berkah sekaligus tantangan.
Di balik kepekaannya, mereka umumnya adalah sosok yang penuh kasih, kreatif, dan pendengar yang sangat baik.
Menghindari penghakiman seperti melabeli mereka terlalu sensitif dan mulai memvalidasi perasaan mereka adalah langkah awal terbaik untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Haibunda