Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 12:22 WIB

Suhu Panas Landa Sejumlah Wilayah di Indonesia Termasuk Gorontalo, Diprediksi Sampai Awal November

Author

Suhu panas landa sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Gorontalo (BMKG)

GORONTALO – Beberapa hari terakhir, masyarakat Provinsi Gorontalo merasakan hawa panas yang lebih menyengat dari biasanya. 

Meski daerah ini memang dikenal dengan udaranya yang terik, kali ini suhu terasa jauh lebih tinggi. 

Panasnya bukan hanya membuat gerah, tapi juga terasa membakar kulit saat berada di luar ruangan. 

Baca juga: Sistem Satu Arah Akan Diterapkan di Jalan HB Jassin Kota Gorontalo, Uji Coba Mulai 27 Oktober

Rupanya, fenomena ini bukan tanpa sebab.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa cuaca panas ekstrem dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Gorontalo, disebabkan oleh kombinasi antara gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia. 

BMKG memprakirakan kondisi ini masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menerangkan bahwa gerak semu matahari saat ini berada di selatan ekuator, sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima paparan sinar matahari lebih intens. 

Baca juga: Mahasiswa Gorontalo Dapat Angin Segar, Australia Buka Peluang Beasiswa S3

Selain itu, penguatan angin timuran atau Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat yang menyebabkan pembentukan awan menjadi minim.

Akibatnya, radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi tanpa penghalang.

"Posisi ini membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua, menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas di banyak wilayah Indonesia,” kata Guswanto.

Baca juga: Pria Asal Sumut yang Ditangkap karena Narkoba Ngaku Sales Onderdil, Sabu Disimpan dalam Majalah

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan bahwa suhu maksimum di atas 35°C kini tercatat di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Wilayah yang paling terdampak antara lain Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi bagian selatan dan tenggara, serta sebagian Papua.

Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). 

Sehari kemudian, 13 Oktober, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT). 

Namun pada 14 Oktober, suhu kembali naik di kisaran 34–37°C, dengan puncaknya mencapai 37,6°C di Majalengka (Jawa Barat) dan Boven Digoel (Papua).

“Konsistensi tingginya suhu maksimum di banyak wilayah menunjukkan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” jelas Andri.

Meski panas mendominasi, BMKG masih memprediksi potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif pada sore hingga malam hari di beberapa daerah, terutama di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan selama periode panas ini. 

Warga diimbau memperbanyak asupan cairan, menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, dan tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak seperti hujan disertai petir dan angin kencang.

"Tetap waspada terhadap potensi perubahan cuaca mendadak seperti hujan disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari,” tambah Guswanto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BMKG

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU