Rabu, 24 JUNI 2026 • 16:12 WIB

Terkuak di Gorontalo! Ini Alasan Emosional Prabowo Tak Pernah Menyerah Meski Berkali-kali Kalah di Pemilu

Author

Prabowo ungkap alasan mendalam tak pernah menyerah meski berulang kali kalah di Pemilu saat menghadiri acara puncak PENAS XVII Gorontalo (BPMI Setpres)

GORONTALO — Sebuah pengakuan jujur mengenai perjalanan panjang di panggung politik tanah air akhirnya terucap langsung dari lisan Presiden RI, Prabowo Subianto.

Prabowo Subianto menegaskan bahwa tekad untuk memperkuat dan menyejahterakan rakyat telah menjadi prinsip yang dipegangnya selama puluhan tahun.

Prinsip kokoh inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi dirinya untuk terus bangkit dari setiap kegagalan elektoral di masa lalu.

Baca juga: Gagah Pakai Upiya Karanji, Presiden Prabowo Bakar Semangat Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo

Bagi Prabowo, esensi perjuangan politik bukanlah tentang mengejar jabatan semata, melainkan sebuah misi suci untuk membalikkan keadaan masyarakat kecil.

“Karena itulah saya bertekad, saya berjuang. Saya terus di politik. Kalah, saya maju lagi. Kalah, maju lagi," katanya saat memberikan sambutan pada acara puncak PENAS XVII, Rabu, 24 Juni 2026.

"Karena saya melihat belum ada usaha besar dari elit Indonesia untuk memperkuat rakyat Indonesia dari bawah,” lanjutnya.

Baca juga: Pemkab Gorontalo Dukung Penuh Aksi Sosial Kapolda di Hari Bhayangkara ke-80

Kegelisahan Terhadap Sistem Ekonomi yang Mencekik Petani

Akar kegigihan politik tersebut rupanya bermula dari pengalaman empiris saat beliau memimpin organisasi agraria terbesar di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menceritakan pengalamannya saat menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Kala itu, dirinya menyaksikan langsung bagaimana kebijakan ekonomi nasional justru diadopsi dari teori-teori luar yang tidak memihak rakyat kecil.

Baca juga: Pecah Rekor! Transaksi UMKM di Kabupaten Gorontalo Tembus Miliaran Rupiah Selama PENAS XVII

Saat itu, kata Prabowo, pendekatan ekonomi yang berkembang cenderung mengedepankan prinsip-prinsip neoliberal yang menempatkan mekanisme pasar sebagai solusi utama.

Melihat kenyataan pahit ketika posisi tawar kaum marjinal dilemahkan oleh sistem, hati kecilnya menolak keras narasi tersebut.

“Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara. Tidak mengerti apa arti bernegara. Tidak mengerti kenapa kita mau merdeka,” katanya.

Mempertanyakan Fungsi Simbol Negara Jika Rakyat Belum Makmur

Bagi purnawirawan TNI ini, kekalahan dalam pemilu tidak ada apa-apanya dibandingkan kekalahan moral jika membiarkan kemiskinan struktural terus terjadi.

Menurutnya, tujuan utama kemerdekaan Indonesia adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat.

Dirinya memandang bahwa struktur lembaga tinggi negara dan segala seremonial kebangsaan akan kehilangan makna hakikinya jika keadilan sosial belum terwujud.

“Itu tujuan kita merdeka. Kita bukan merdeka hanya sekedar untuk merdeka. Untuk apa kita punya DPR? Untuk apa kita punya DPD? Untuk apa kita nyanyi lagu kebangsaan? Kalau rakyat kita tidak sejahtera,” tuturnya.

Oleh sebab itu, setiap kegagalan di masa lalu justru diubah menjadi energi baru untuk kembali maju demi mengubah arah pembangunan nasional.

Untuk itu, dirinya memilih untuk terus berjuang agar arah pembangunan ekonomi Indonesia sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Setpres

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU