GORONTALO – Dugaan kekerasan dalam kegiatan diksar mapala Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang berujung tewasnya satu mahasiswa asal Muna menguat.
Hal ini disampaikan La Awal, Dewan Pembina Paguyuban Kesatuan Pelajar Mahasiswa Muna Indonesia (KEPMMI).
La Awal bilang sejak hari pertama korban dilarikan ke rumah sakit, ia telah berkomunikasi dengan korlap untuk menanyakan kondisi lapangan.
Baca juga: Mahasiswa Asal Muna Tewas Usai Diksar Mapala FIS UNG, Polisi Periksa 10 Panitia
Saat itu, kata dia, korlap mengaku memang ada kontak fisik dalam proses kaderisasi.
“Saya tanya apa saja bentuknya, dia bilang ada penamparan dan kontak fisik lainnya. Bahkan dia sendiri mengaku ikut melakukan itu,” ungkapnya.
La Awal meyakini dugaan kekerasan itulah yang menjadi penyebab wajah korban mengalami bengkak hingga berujung pada meninggalnya anggotanya di paguyuban Muna.
Baca juga: Rektor UNG Larang Keras Mahasiswa Ikuti Pengkaderan Ilegal di Luar Kampus
“Saya lihat sendiri saat visum, masih ada darah keluar dari mulut. Kami yakin ada pembuluh darah pecah. Ada kejanggalan dalam kematian ini,” lanjutnya.
Lebih jauh, La Awal menegaskan bahwa korlap adalah orang yang paling tahu detail jalannya kegiatan, sehingga pernyataan darinya menjadi kunci penting dalam mengungkap kasus ini.
“Dia yang bertanggung jawab di lapangan, jadi kami yakin pengakuannya benar,” tegasnya.
Kasus kematian mahasiswa FIS UNG usai mengikuti diksar Mapala ilegal ini kini tengah ditangani pihak kepolisian.
Keluarga maupun kerabat korbam berharap penyelidikan berjalan terbuka dan mampu mengungkap dugaan kekerasan yang terjadi.
"Kami minta kepolisian transparan dalam menangani kasus ini," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan