GORONTALO — Kekhawatiran publik mengenai nasib area bekas Gelar Teknologi Pertanian setelah perhelatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII akhirnya terjawab.
Kawasan strategis tersebut dipastikan tidak akan dibiarkan telantar begitu saja oleh pihak-pihak terkait.
Langkah inovatif diambil dengan merancang ulang zona tersebut menjadi pusat agrowisata terpadu berbasis edukasi.
Baca juga: Sisi Humanis Lionel Messi yang Selaras dengan Nilai Luhur Islam
Rencana besar ini mencakup penggabungan potensi sektor pertanian modern, budidaya perikanan, serta wisata alam yang ramah keluarga.
Komitmen keberlanjutan ini ditegaskan langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, saat turun ke lapangan.
Ia mendatangi kediaman Lian A.W. Hapulu selaku pemilik sah dari lahan seluas 1,8 hektare di Desa Kayubulan, Kecamatan Limboto.
Baca juga: Merawat Tradisi Lewat Sepotong Kue: Kehangatan Filosofi di Balik Festival Apangi Gorontalo
Dari hasil dialog tersebut, disepakati bahwa bentang alam produktif ini akan tetap mempertahankan esensi aslinya sebagai ladang hijau.
Demi mendukung fasilitas penunjang, pihak pemprov juga telah berkoordinasi secara resmi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Permintaan khusus diajukan agar sarana saung pertemuan dan sistem budidaya bioflok hasil PENAS tidak dibongkar.
Baca juga: Info Lengkap Kantor BPJS Kesehatan Gorontalo: Alamat, Jadwal, dan Layanan
Fasilitas tersebut dinilai sangat krusial untuk dijadikan media pembelajaran langsung mengenai dunia agrobisnis bagi pengunjung.
“Kami ingin memastikan lokasi ini tetap memberikan manfaat setelah PENAS selesai. Agrowisata ini diharapkan menjadi ikon baru Gorontalo sekaligus pusat edukasi pertanian dan perikanan. Pemerintah provinsi akan terus berkolaborasi agar kawasan ini terpelihara dan berkembang,” ujar Idah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo