Stok darah di Gorontalo belum sesuai standar WHO (HO/Husnul Puhi)
GORONTALO – Persediaan stok darah di Provinsi Gorontalo belum memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut perhitungan, daerah dengan jumlah penduduk 1,1 juta jiwa seharusnya menyediakan sedikitnya 22.000 kantong darah per tahun atau sekitar 1.800 kantong per bulan.
Kepala Bidang Donor Darah PMI Gorontalo, Leisyawati Ali, menjelaskan capaian tersebut masih jauh dari realitas di lapangan.
“Kalau melihat kebutuhan ideal, seharusnya tersedia 1.800 kantong per bulan. Namun realitasnya, permintaan darah per bulan hanya berkisar 1.200 hingga 1.500 kantong,” jelas Leisyawati, Selasa, 16 September 2025 kemarin.
Distribusi darah ini, lanjutnya, disalurkan ke 17 rumah sakit yang tersebar di Provinsi Gorontalo.
Rinciannya, tujuh rumah sakit berada di Kota Gorontalo, dua di Kabupaten Bone Bolango, empat di Kabupaten Gorontalo, satu di Gorontalo Utara, dua di Boalemo, dan satu di Pohuwato.
Baca juga: Seharian Urus SKCK, PPPK Paruh Waktu Kabupaten Gorontalo dapat Traktiran Bakso dari Pemerintah
"Angka itu hanya untuk kebutuhan rumah sakit. Belum termasuk permintaan mendadak, misalnya untuk pasien thalasemia, trombosit, atau korban kecelakaan," ujarnya.
"Kalau ada kasus khusus, kebutuhan bisa melonjak. Karena itu, stok yang aman sangat penting,” tambahnya.
Namun hingga kini, kemampuan PMI masih terbatas. Jumlah ini tertinggal sekitar 400 kantong dari kebutuhan rata-rata.
Baca juga: Pabrik Gula Diduga Ingkar HPP, Petani Tebu di Gorontalo Melawan
"Kami masih kekurangan sekitar 400 kantong setiap bulan. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memenuhi kekosongan itu,” ujarnya.
PMI Gorontalo selama ini bergantung pada pendonor sukarela yang rutin menyumbangkan darah setiap dua sampai tiga bulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan