GORONTALO — Provinsi Gorontalo sangat beruntung memiliki warisan budaya berupa 15 jenis sastra lisan yang sangat berharga.
Kelestarian belasan tradisi seni tutur ini tidak luput dari peran besar para tokoh pegiat budaya setempat.
Seluruh dedikasi para tokoh tersebut telah didokumentasikan secara resmi di dalam buku Ensiklopedia Tokoh Sastra Daerah Gorontalo.
Baca juga: Hari Anak Nasional ke-42, Bupati Gorontalo: Kami Ingin Anak-Anak Punya Ruang Berpendapat
Buku rujukan ini menjadi bukti nyata perjuangan masyarakat dalam menjaga keaslian tradisi peninggalan para leluhur.
Mengenal Profil Sosok Tokoh Budaya Kebanggaan Gorontalo
1. H. Abdul Wahab Lihu
Nama besar A.W. Lihu telah diakui secara luas sebagai rujukan utama mengenai seluk-beluk sistem peradatan Gorontalo.
Sesepuh kelahiran 7 Oktober 1937 ini memegang teguh amanah adat yang sangat tinggi sebagai Baate lo Limutu Lolo’opo.
Baca juga: Ada Gorontalo, Ini Daftar 10 Provinsi dengan Kepemilikan Akta Kelahiran Tertinggi Tahun 2025
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia resmi menyematkan gelar Maestro Seni Tradisi kepadanya pada September 2015.
Julukan Maestro Tuja’i juga pantas disandangnya karena ia sangat piawai menuturkan syair secara otodidak tanpa teks.
Selain tuja’i, ia juga telah merawat eksistensi taleningo, leningo, piilu, dan ragam sastra lisan lainnya sejak dekade 1970-an.
Baca juga: SD Negeri di Kota Gorontalo ini Sepi Peminat, Kepsek: Alhamdulillah Masih Dapat Tiga Murid Baru
2. Abd. Kadir Mohamad
Tokoh pendidikan yang lekat dengan sapaan hangat Guru Rum ini lahir di Limba U pada tanggal 6 Juli 1949.
Pria penyandang sarjana Pendidikan Agama Islam ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya sebagai guru dan kepala sekolah.
Kiprah birokrasinya terus bersinar semenjak ia menduduki posisi strategis di Dinas Kebudayaan pada tahun 1997 silam.
Baca juga: SD Negeri di Kota Gorontalo ini Sepi Peminat, Kepsek: Alhamdulillah Masih Dapat Tiga Murid Baru
Ia juga sempat mengemban amanah sebagai Kepala Bagian Sosial hingga Anggota Komisi Pemilihan Umum di Kabupaten Pohuwato.
Ketertarikannya pada sastra lisan tuja’i bermula dari kebiasaannya mengamati berbagai tahapan upacara peradatan lokal.
Ia sudah menembangkan syair tuja’i sejak tahun 1973, bahkan melantunkannya sendiri saat prosesi melamar sang istri.
3. Abdul Mutalib Demolawa
Sosok petani tangguh yang lebih akrab disapa Ka Pulu ini merupakan pria kelahiran 21 Oktober 1975.
Meski pendidikannya hanya tamat di bangku sekolah dasar, dedikasinya terhadap warisan leluhur di Desa Ulanta sungguh luar biasa.
Ia sangat mahir melantunkan tuja’i untuk mengiringi jalannya rangkaian upacara pernikahan hingga kedukaan di daerahnya.
Sejak tahun 2014, ia juga rutin menembangkan sastra lisan mi’raji khusus untuk memperingati perayaan peristiwa Isra Mikraj.
Keahliannya dalam menyusun naskah budaya membuat warga setempat mendaulatnya sebagai ketua pemangku adat Desa Ulanta.
4. Abdul Rahman Abudi
Tokoh pelestari kelahiran Desa Boludawa pada 15 Februari 1958 ini jauh lebih populer dengan nama panggilan Papi Rili.
Lulusan diploma tiga bidang pertanian ini meyakini bahwa sastra lisan Gorontalo menyimpan sejuta keunikan dan manfaat.
Papi Rili mulai aktif menggeluti kesenian tuja’i dan palebohu secara intensif semenjak era tahun 1990-an silam.
Kecintaannya pada budaya terbukti dari inisiatifnya meracik naskah sendiri untuk memperlancar jalannya upacara adat pernikahan.
Konsistensinya dalam bersastra lisan telah sukses mengantarkannya meraih kedudukan terhormat sebagai Kimalaha di Kecamatan Suwawa.
5. Abdul Wahab Suleman
Pria asal Motolohu kelahiran 3 Mei 1971 ini sangat dikenal oleh masyarakat luas dengan sapaan akrab Kak Unje.
Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang petani, ia selalu rutin menghibur warga melalui lantunan tradisi lohidu dan pantungi.
Keahliannya memetik dawai gambus sambil menembangkan syair berhasil menjadikannya juara langganan pada berbagai perlombaan tingkat desa.
Bagi Kak Unje, serangkaian penghargaan tersebut hanyalah bonus dari niat tulusnya untuk mengedukasi masyarakat Gorontalo.
Ia menaruh harapan besar agar seluruh kebiasaan positif masyarakat ini dapat terus diwariskan kepada para generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ensiklopedia Tokoh Sastra Daerah Gorontalo