Sabtu, 23 MEI 2026 • 09:49 WIB

Mengintip Keunikan Hewan Endemik Gorontalo, Ada yang Terancam Punah

Author

Monyet Gorontalo atau Dihe, salah satu hewan endemik yang terancam populasinya (boganiwartabone.org)

GORONTALO — Kekayaan alam Pulau Sulawesi tersimpan rapi di dalam rimbunnya hutan tropis Provinsi Gorontalo

Wilayah ini menjadi rumah aman bagi sederet satwa eksklusif yang tidak dapat ditemukan di belahan bumi lainnya. 

Keberadaan mereka menjadi bukti pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan hujan.

Baca juga: Update Harga Kebutuhan Bahan Pokok di Gorontalo Jelang Iduladha 2026

Namun, beberapa dari satwa unik ini tengah menghadapi ancaman serius akibat menyusutnya habitat alami. 

Menjelajahi habitat mereka laksana membuka lembaran buku prasejarah yang hidup.

Berikut adalah lima satwa endemik kebanggaan Gorontalo dengan segala keunikan serta status kelestariannya yang wajib kita ketahui.

Baca juga: Panduan Lengkap Syarat Hewan Kurban yang Sah Menurut Islam

1. Burung Maleo (Macrocephalon maleo)

Menjadi maskot utama Provinsi Gorontalo, Burung Maleo menyimpan keunikan perilaku yang menakjubkan sekaligus memprihatinkan. 

Satwa ini tidak memanfaatkan kehangatan tubuhnya sendiri untuk menetaskan keturunan.

Induk Maleo akan menggali dan mengubur telur raksasanya di dalam tanah yang memiliki sumber panas bumi (geotermal) alami.

Baca juga: Indeks Reformasi Birokrasi Provinsi Gorontalo Masuk Kategori A

Sayangnya, akibat maraknya perburuan liar dan rusaknya area peneluran, populasi burung ikonis ini terus merosot tajam hingga berada dalam status terancam punah.

Jika ingin melihat langsung aktivitas unik mereka, kawasan Hungayono di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) menjadi salah satu tempat pengamatan terbaik yang tersisa.

2. Tarsius Supriatnai (Tarsius supriatnai)

Gorontalo patut bangga memiliki primata sekecil genggaman tangan dewasa yang dinobatkan sebagai spesies unik asli daerah setempat.

Karakter fisiknya sangat khas, yakni sepasang mata bulat besar yang mendominasi wajahnya yang mungil. 

Menyaksikan mamalia nokturnal ini melesat lincah di antara ranting pohon saat senja tiba menyajikan sensasi magis tersendiri bagi para pengamat satwa. 

Salah satu lokasi pelestarian primata ini berada di Cagar Alam Panua, Kabupaten Pohuwato.

3. Babirusa (Babyrousa babyrussa)

Mamalia yang sekilas berwujud layaknya satwa purba ini memiliki senjata alami berupa taring panjang. 

Pada pejantan, taring bawahnya mencuat melengkung ke atas hingga menembus kulit moncongnya sendiri. 

Babirusa merupakan penghuni hutan rimba pekat yang memiliki sifat sangat pemalu dan sensitif terhadap kehadiran manusia. 

Keberadaannya kini dilindungi secara ketat di area hutan primer Taman Nasional Bogani Nani Wartabone guna menghindari kepunahan.

4. Julang Sulawesi (Alo)

Masuk dalam famili rangkong (Bucerotidae), burung Alo atau Julang Sulawesi merupakan salah satu dari 13 varietas rangkong kebanggaan Nusantara. 

Fisiknya tergolong raksasa dengan bentangan tubuh mencapai satu meter.

Didominasi bulu hitam legam dan ekor putih bersih, sang jantan tampil menonjol lewat leher kuning kecokelatan, kantung paruh biru terang, serta cula merah menyala di atas paruhnya.

Sementara sang betina tampil anggun dengan leher hitam dan tanduk kepala kuning.

Burung ini dikenal sangat setia karena hampir selalu terbang berpasangan sambil mengeluarkan suara pekikan yang nyaring. 

Meski tersebar di daratan Sulawesi, populasi globalnya ditaksir menyusut hingga 40% dalam beberapa generasi terakhir. 

Di kawasan TNBNW, riuh suara kepakan sayap mereka paling mudah dijumpai di area Tapakolintang, Muara Pusian, dan sekitar Tulabolo (Bone Bolango).

5. Monyet-Hitam Gorontalo (Dihe)

Masyarakat awam sering keliru menyamakan satwa ini dengan kerabat dekatnya, monyet-hitam sulawesi (Macaca nigra). 

Jika dicermati secara saksama, Dihe atau monyet-hitam gorontalo memiliki semburat warna bulu yang agak kemerahan dengan jambul kepala yang cenderung lebih pendek. 

Selain itu, saat musim kawin tiba, bantalan di area belakang tubuhnya tidak membesar dan memerah sekontras kerabat selatannya.

Primata ini merupakan penghuni asli lanskap Bogani Nani Wartabone dan hutan penyangganya. 

Pada batas wilayah bagian timur, sebaran mereka terkadang masih saling beririsan dengan Macaca nigra. 

Walau intensitas perjumpaannya di dalam taman nasional masih relatif mudah, lembaga konservasi dunia IUCN mengindikasikan bahwa tren populasi primata endemik ini terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU