Rabu, 15 APRIL 2026 • 13:29 WIB

Sejarah Idul Adha: Keteladanan Nabi Ibrahim dan Keikhlasan Ismail AS

Author

Sejarah Iduladha, ketaladanan Nabi Ibrahim, dan keikhlasan Ismail AS (Istimewa)

GORONTALOIdul Adha bukan sekadar perayaan ritual penyembelihan hewan ternak atau qurban setiap tanggal 10 Dzulhijjah. 

Di balik gema takbir yang berkumandang, terdapat memori sejarah yang melintasi ribuan tahun tentang sebuah ujian cinta, loyalitas, dan penyerahan diri yang paling ekstrem dalam sejarah peradaban manusia.

Ujian Cinta: Perintah di Balik Mimpi

Kisah agung ini bermula dari visi spiritual Nabi Ibrahim AS melalui mimpinya. 

Baca juga: Sesuai Sunnah! Ini Adab dan Doa saat Minum Air Zamzam Agar Hajat Terkabul

Allah SWT memberikan ujian yang sangat berat yakni menyembelih putra kesayangannya, Ismail AS, yang telah dinanti kehadirannya selama bertahun-tahun. 

Peristiwa ini diabadikan secara puitis sekaligus menyentuh dalam Al-Qur'an Surah Ash-Shaffat.

Bukan paksaan yang dikedepankan, melainkan dialog penuh kasih. 

Baca juga: Derby Melayu! Jadwal Timnas Indonesia U-17 Vs Malaysia di Laga Kedua Piala AFF U-17 2026

Nabi Ibrahim menyampaikan perintah tersebut kepada Ismail, dan jawaban sang putra menjadi puncak dari keikhlasan seorang hamba.

"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Mukjizat di Balik Ketajaman Pisau

Ketika pisau nyaris menyentuh leher dan ketaatan keduanya telah terbukti secara absolut di hadapan langit, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya. 

Baca juga: Wujudkan Layanan Dasar Terpadu, Pemkab Gorontalo Transformasi Peran Posyandu Melalui Bimtek Strategis

Ismail tidak terluka, Allah menggantinya dengan seekor domba besar dari surga. 

Momen inilah yang menjadi akar filosofis ibadah kurban. 

Allah tidak menginginkan darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan dan kerelaan hati untuk melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi kecintaan yang lebih besar kepada Sang Pencipta.

Hubungan Spiritual dengan Ibadah Haji

Idul Adha memiliki keterikatan yang tak terpisahkan dengan rangkaian ibadah Haji. 

Saat jutaan manusia berkumpul melakukan wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, umat Muslim di seluruh dunia yang tidak berhaji dianjurkan untuk berpuasa Arafah sebagai bentuk solidaritas spiritual.

Keesokan harinya, shalat Id dilaksanakan dan penyembelihan kurban dimulai hingga hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah). 

Hewan kurban seperti sapi, kambing, atau unta disembelih bukan hanya untuk konsumsi pribadi, melainkan menjadi instrumen distribusi keadilan sosial bagi fakir miskin dan dhuafa.

Esensi dan Hikmah untuk Kehidupan Modern

Perayaan Idul Adha membawa pesan-pesan abadi yang tetap relevan hingga hari ini:

Ketaatan Absolut: Mengajarkan bahwa perintah Tuhan melampaui logika kemanusiaan yang terbatas.

Keikhlasan Total: Melepaskan ego dan keterikatan pada materi.

Empati Sosial: Menghapus sekat antara si kaya dan si miskin melalui distribusi daging kurban.

Kekuatan Keluarga: Menunjukkan bagaimana hubungan ayah dan anak yang dibangun di atas fondasi iman.

Idul Adha mengingatkan kita bahwa setiap pengorbanan yang dilandasi keikhlasan tidak akan pernah sia-sia. 

Dari Ibrahim kita belajar tentang keteguhan, dan dari Ismail kita belajar tentang penerimaan.

Semoga setiap kurban yang kita persembahkan tahun ini mampu membersihkan hati dan mempererat ukhuwah sesama manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU