GORONTALO – Adat Mopotilolo menjadi pemandangan ikonik saat Menteri Hak Asasi Manusia (MenHAM) RI, Natalius Pigai, pertama kali menginjakkan kaki di Provinsi Gorontalo, Selasa, 31 Maret 2026.
Hal serupa juga wajib dilalui oleh setiap pejabat negara maupun tamu agung lainnya sebelum memulai agenda resmi mereka di Gorontalo.
Lantas, apa sebenarnya esensi dari ritual Mopotilolo ini?
Baca juga: Pedas! Harga Rica di Pasar Sentral Gorontalo Tembus Rp125 Ribu per Kg
Gerbang Spiritual dan Restu Adat
Mopotilolo merupakan upacara adat penyambutan bagi pejabat tinggi negara atau sosok kehormatan yang baru pertama kali berkunjung ke Gorontalo.
Dipimpin oleh dewan adat U Duluwo Limo Lo Pohalaa (lima negeri adat), ritual ini adalah manifestasi luhur untuk memuliakan tamu sekaligus simbol pemberian izin spiritual dari masyarakat lokal.
Secara filosofis, tradisi ini berakar kuat pada prinsip Adat Bersendikan Syara', Syara' Bersendikan Kitabullah.
Baca juga: Nasib PPPK di Kota Gorontalo Aman, Ini Syaratnya
Hal ini mencerminkan harmonisasi sempurna antara penghormatan terhadap tatanan leluhur dengan nilai-nilai tauhid yang mendalam.
Tahapan dan Simbolisme Ritual
Setiap langkah dalam Mopotilolo dirancang dengan urutan yang sangat presisi dan sarat makna.
- Penghadangan Adat: Tamu dihadang secara simbolis di pintu masuk wilayah (seperti bandara atau perbatasan) untuk diberikan penghormatan resmi melalui narasi puitis bahasa daerah.
Baca juga: MenHAM Natalius Pigai Kunjungi Gorontalo, Disambut Adat Mopotilolo
- Penyajian Adat: Tamu dipersilakan mencicipi jamuan khusus sebagai tanda kesediaan untuk menghormati aturan dan adat istiadat setempat.
- Doa dan Shalawat: Elemen religiusitas muncul melalui doa perlindungan dan lantunan shalawat agar kehadiran sang tamu membawa keberkahan bagi daerah.
- Mongabi: Pernyataan resmi dari pemangku adat bahwa tamu telah diterima secara sah dan direstui untuk beraktivitas di seluruh wilayah Gorontalo.
Pantangan dan Marwah Daerah
Mopotilolo bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan instrumen vital dalam menjaga harga diri (marwah) daerah. Terdapat beberapa pantangan keras (totalo) yang harus diperhatikan
- Etika Tamu: Tamu sangat dilarang menunjukkan sikap sombong atau menolak persembahan adat dengan cara yang tidak santun.
- Kesempurnaan Adat: Pemangku adat dilarang melakukan kesalahan dalam pengucapan bait sastra atau doa karena dianggap dapat mencederai kesucian ritual.
- Filosofi Warna: Penggunaan warna Kuning Emas (kemuliaan), Ungu (kewibawaan), dan Hijau (Islam) wajib hadir secara estetis sebagai representasi identitas Limo Lo Pohala'a.
Melalui Mopotilolo, Gorontalo menegaskan dirinya sebagai daerah yang terbuka, tapi tetap teguh memegang prinsip moral dan religiusitas.
Hubungan timbal balik ini menciptakan sinergi: tamu menghargai kedaulatan lokal, sementara tuan rumah menjamin keselamatan serta penghormatan tertinggi bagi sang tamu selama berada di tanah Gorontalo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber