GORONTALO – Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap memegang peranan vital sebagai penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sektor ini menampung sekitar 41,24 juta jiwa atau setara dengan 28% dari total angkatan kerja nasional.
Namun, di balik angka tersebut, terdapat tantangan struktural terkait kualitas sumber daya manusia (SDM).
Dominasi Tenaga Kerja Tradisional
Data BPS menunjukkan ketimpangan yang mencolok pada latar belakang pendidikan para pekerja tani di tanah air.
Mayoritas tenaga kerja di sektor ini merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, dengan jumlah mencapai 25,17 juta orang.
Angka ini jauh melampaui kelompok pendidikan lainnya.
Baca juga: Kumpul Keluarga saat Lebaran? Ini 5 Topik yang Sebaiknya Tidak Dibahas
Secara rinci, komposisi pendidikan pekerja di sektor pertanian adalah sebagai berikut:
- SD/SD ke bawah: 25,17 Juta orang
- SMP: 7,28 Juta orang
- SMA: 7,95 Juta orang
- Perguruan Tinggi: 0,89 Juta orang (886,8 ribu)
Kecilnya angka lulusan pendidikan tinggi (kurang dari 1 juta orang) mengindikasikan bahwa sektor pertanian belum menjadi magnet utama bagi tenaga kerja ahli atau terampil dengan kualifikasi akademik tinggi.
Korelasi Pendidikan dan Produktivitas
Rendahnya tingkat pendidikan ini berbanding lurus dengan rendahnya angka produktivitas sektor.
Baca juga: Bukan Sekadar Tren, Ini Akar Sejarah Tradisi Baju Baru di Hari Lebaran
Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa produktivitas di bidang pertanian masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan sektor lain.
Sebagai gambaran, produktivitas pertanian tercatat hanya sekitar seperenam dari produktivitas sektor pengolahan.
"Rendahnya produktivitas di sektor pertanian salah satunya dikontribusikan oleh faktor tenaga kerja yang mayoritas hanya menamatkan pendidikan maksimal tingkat Sekolah Dasar," ujar Amalia dalam keterangannya.
Urgensi Modernisasi SDM
Ketergantungan pada metode tradisional dan terbatasnya akses pendidikan di wilayah rural disinyalir menjadi penyebab utama mandeknya regenerasi SDM berkualitas di sektor ini.
Pekerjaan di ladang sering kali dianggap tidak memerlukan kualifikasi formal, sehingga lulusan perguruan tinggi cenderung memilih sektor jasa atau industri.
Ke depan, pemerintah menghadapi tantangan untuk melakukan transformasi besar-besaran.
Peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan teknis, pengenalan teknologi pertanian modern (smart farming), serta perbaikan akses pendidikan di desa menjadi kunci utama.
Jika kualitas tenaga kerja meningkat, sektor pertanian diharapkan tidak hanya menjadi penyerap tenaga kerja secara kuantitas, tetapi juga mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS, Goodstats