GORONTALO — Tiga malam terakhir menjelang Idulfitri di Provinsi Gorontalo tidak hanya sekadar terang oleh cahaya, tetapi juga sarat akan doa yang divisualisasikan.
Tradisi ini dikenal dengan Tumbilotohe, sebuah perpaduan kata dari tumbilo (memasang) dan tohe (lampu).
Meski kini telah bertransformasi dari lampu botol tradisional ke lampu hias modern, ruh dari tradisi ini tetap berpijak pada deretan atribut yang kaya akan makna spiritual.
Baca juga: Tumbilotohe: Pesona Cahaya Warisan Leluhur di Penghujung Ramadan Gorontalo
Atribut-atribut yang terpasang pada gerbang-gerbang cahaya ini bukanlah penghias semata, melainkan buku terbuka tentang perjalanan spiritual manusia menuju Sang Pencipta.
Alikusu bukan sekadar tiang penyangga lampu, melainkan simbol gerbang kehidupan. Di sinilah filosofi kesatuan antara jasad (lampu) dan roh (cahaya) dipadukan.
Uniknya, jumlah 27 lampu yang tergantung memiliki hierarki simbolis:
Baca juga: Waspada! 3 Bentuk Kontrol Pasangan yang Sering Dikira Tanda Perhatian
Janur kuning yang menghiasi Alikusu melambangkan pesona batin masyarakat Gorontalo.
Gerakannya yang gemulai saat tertiup angin adalah representasi kegembiraan dan kesiapan diri untuk bersolek secara spiritual demi menyambut datangnya malam seribu bulan, Lailatul Qadar.
Lampu minyak menjadi pengingat akan rapuhnya hidup, sekali tertiup angin kencang, ia bisa padam. Secara filosofis, cahaya ini adalah Al-Qur'an yang menerangi jalan manusia.
Sementara itu, Tubu atau sumbu yang terbuat dari benang lurus mengajarkan tentang integritas.
Sumbu yang lurus akan menghasilkan api yang stabil, tapi jika sumbu tersebut kusut (perilaku buruk), cahaya kehidupan pun akan meredup dan kasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber