GORONTALO — Seminggu pasca-gema takbir Idulfitri, suasana di Provinsi Gorontalo kembali meriah.
Masyarakat setempat bersiap merayakan Lebaran Ketupat atau Hari Raya Ketupat yang jatuh setiap 8 Syawal.
Meski kini telah menjadi pesta rakyat yang masif, tradisi ini menyimpan riwayat panjang tentang asimilasi budaya dan keteguhan spiritual yang bermula dari perkampungan Jawa Tondano (Jaton).
Baca juga: Kumpul Keluarga saat Lebaran? Ini 5 Topik yang Sebaiknya Tidak Dibahas
Akar tradisi ini tidak bisa dipisahkan dari kedatangan masyarakat Jawa Tondano ke Gorontalo pada awal abad ke-19.
Gelombang pertama migrasi Jaton bermula tahun 1900, disusul gelombang berikutnya yang membuka pemukiman ikonik seperti Desa Josonegoro dan Kaliyoso.
Secara historis, Lebaran Ketupat merupakan metode dakwah yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, yang kemudian dibawa oleh komunitas Jaton ke Gorontalo.
Baca juga: Bukan Sekadar Tren, Ini Akar Sejarah Tradisi Baju Baru di Hari Lebaran
Kata ketupat atau kupat sendiri berasal dari bahasa Jawa, Ngaku Lepat, yang berarti mengakui kesalahan.
Melalui anyaman janur ini, umat Muslim diajak untuk merendahkan hati, mengakui khilaf, dan saling memaafkan.
Bagi masyarakat Gorontalo, perayaan ini adalah "puncak kedua" setelah Ramadan.
Baca juga: 20 Inspirasi Ucapan Idulfitri 2026: Dari yang Menyentuh Hati hingga Formal
Ia menjadi simbol rasa syukur atas selesainya ibadah puasa wajib dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Menu khas seperti ketupat dan Nasi Bulu (nasi bambu) dan dodol disajikan secara terbuka sebagai bentuk sedekah dan jamuan bagi siapa saja yang datang berkunjung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber