Sejarah tradisi baju lebaran (Istimewa)
GORONTALO — Membeli pakaian baru atau baju lebaran seolah telah menjadi ritual wajib masyarakat Indonesia setiap kali menyambut Idulfitri.
Bagi banyak orang, Lebaran terasa kurang lengkap tanpa penampilan yang segar.
Namun, tahukah Anda bahwa tradisi ini bukanlah fenomena modern, melainkan warisan sejarah yang telah mengakar sejak ratusan tahun lalu?
Baca juga: 20 Inspirasi Ucapan Idulfitri 2026: Dari yang Menyentuh Hati hingga Formal
Berikut adalah fakta menarik di balik tradisi baju baru Lebaran yang perlu Anda ketahui.
Merujuk pada catatan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, jejak awal tradisi ini dapat ditarik hingga tahun 1596 di lingkungan Kesultanan Banten.
Pada masa itu, keluarga kerajaan memiliki prinsip untuk menyambut hari kemenangan dalam kondisi yang paling suci dan bersih.
Baca juga: Tentang THR: Warisan Perjuangan Buruh Kiri Gandengan PKI yang Terlupakan
Keadaan "suci" tersebut secara simbolis ditunjukkan dengan mengenakan pakaian baru yang belum pernah dipakai sebelumnya.
Lambat laun, kebiasaan eksklusif kaum bangsawan ini mulai merembat ke masyarakat umum.
Warga Banten pun mulai berbondong-bondong membeli kain atau menjahit pakaian baru setiap kali Ramadan akan berakhir.
Baca juga: Menyibak Filosofi Mendalam di Balik Atribut Tumbilotohe Gorontalo
Fakta menarik lainnya diungkap oleh Snouck Hurgronje, seorang penasihat urusan pribumi di era kolonial Belanda.
Dalam bukunya, Islam di Hindia Belanda, ia mengamati bahwa antusiasme masyarakat lokal dalam berburu baju baru, petasan, dan makanan mewah saat Lebaran memiliki kemiripan dengan cara masyarakat Eropa merayakan pergantian tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Viva Gorontalo