Jumat, 20 MARET 2026 • 09:11 WIB

Bukan Sekadar Tren, Ini Akar Sejarah Tradisi Baju Baru di Hari Lebaran

Author

Sejarah tradisi baju lebaran (Istimewa)

GORONTALO — Membeli pakaian baru atau baju lebaran seolah telah menjadi ritual wajib masyarakat Indonesia setiap kali menyambut Idulfitri

Bagi banyak orang, Lebaran terasa kurang lengkap tanpa penampilan yang segar.

Namun, tahukah Anda bahwa tradisi ini bukanlah fenomena modern, melainkan warisan sejarah yang telah mengakar sejak ratusan tahun lalu?

Baca juga: 20 Inspirasi Ucapan Idulfitri 2026: Dari yang Menyentuh Hati hingga Formal

Berikut adalah fakta menarik di balik tradisi baju baru Lebaran yang perlu Anda ketahui.

1. Bermula dari Istana Kesultanan Banten (1596)

Merujuk pada catatan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, jejak awal tradisi ini dapat ditarik hingga tahun 1596 di lingkungan Kesultanan Banten. 

Pada masa itu, keluarga kerajaan memiliki prinsip untuk menyambut hari kemenangan dalam kondisi yang paling suci dan bersih. 

Baca juga: Tentang THR: Warisan Perjuangan Buruh Kiri Gandengan PKI yang Terlupakan

Keadaan "suci" tersebut secara simbolis ditunjukkan dengan mengenakan pakaian baru yang belum pernah dipakai sebelumnya. 

Lambat laun, kebiasaan eksklusif kaum bangsawan ini mulai merembat ke masyarakat umum. 

Warga Banten pun mulai berbondong-bondong membeli kain atau menjahit pakaian baru setiap kali Ramadan akan berakhir.

Baca juga: Menyibak Filosofi Mendalam di Balik Atribut Tumbilotohe Gorontalo

2. Kemiripan dengan Tradisi Tahun Baru Eropa

Fakta menarik lainnya diungkap oleh Snouck Hurgronje, seorang penasihat urusan pribumi di era kolonial Belanda.

Dalam bukunya, Islam di Hindia Belanda, ia mengamati bahwa antusiasme masyarakat lokal dalam berburu baju baru, petasan, dan makanan mewah saat Lebaran memiliki kemiripan dengan cara masyarakat Eropa merayakan pergantian tahun. 

Pada awal abad ke-20, fenomena ini semakin mencolok di Batavia (Jakarta). 

Baca juga: Tumbilotohe: Pesona Cahaya Warisan Leluhur di Penghujung Ramadan Gorontalo

Perputaran uang di pasar-pasar tradisional melonjak drastis karena kebutuhan sandang dan pangan masyarakat yang meningkat tajam menjelang hari raya.

3. Akulturasi Gaya: Sepatu Bot dan Benang Emas

Gaya berpakaian Lebaran di masa lalu juga mencerminkan status sosial. Pada era 1900-an, para bupati dan kepala wilayah sering tampil glamor dengan memadukan unsur lokal dan Barat. 

Mereka mengenakan pakaian baru berbahan kain pantolan dengan hiasan benang emas, lengkap dengan sepatu bot ala pejabat Eropa. 

Sementara itu, rakyat jelata pada mulanya lebih banyak memilih pakaian bergaya Arab (seperti jubah atau koko sederhana). 

Namun, seiring berkembangnya industri tekstil, pilihan model pakaian menjadi semakin variatif dan terjangkau bagi semua kalangan.

4. Motor Penggerak Ekonomi Tekstil

Tradisi ini tidak hanya bermakna secara kultural, tetapi juga menjadi napas bagi industri tekstil di Hindia Belanda.

Permintaan yang meledak setiap tahunnya memaksa para perajin kain dan penjahit untuk terus berinovasi. 

Hingga hari ini, momen menjelang Lebaran tetap menjadi musim panen terbesar bagi para pedagang pakaian di seluruh pelosok Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Viva Gorontalo

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU