Dua orang anak menyalakan lampu botol saat perayaan Tumbilotohe di Gorontalo (Tomy Pramono)
GORONTALO — Masyarakat Provinsi Gorontalo memiliki cara yang sangat ikonik dalam menyambut hari kemenangan.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Tumbilotohe, sebuah festival cahaya tradisional yang telah menjadi identitas budaya turun-temurun.
Tradisi ini bukan sekadar perayaan visual, melainkan simbol kesiapan batin masyarakat muslim dalam menjemput malam Idulfitri.
Baca juga: Waspada! 3 Bentuk Kontrol Pasangan yang Sering Dikira Tanda Perhatian
Secara etimologi, Tumbilotohe berasal dari bahasa lokal, yaitu tumbilo yang berarti menyalakan dan tohe yang berarti lampu.
Maka, Tumbilotohe dapat dimaknai sebagai ritual menyalakan lampu.
Pada awalnya, tradisi ini berfungsi praktis sebagai alat penerangan bagi warga yang hendak menuju masjid untuk beribadah di malam-malam terakhir bulan suci.
Tumbilotohe biasanya digelar selama tiga malam berturut-turut dan mencapai puncaknya tepat pada malam takbiran.
Sejarah mencatat bahwa tradisi ini telah eksis sejak abad ke-15 atau ke-16. Seiring berjalannya waktu, media penerangan yang digunakan terus mengalami transformasi
Di masa awal menggunakan wamuta (seludang kelapa) yang dihaluskan, diruncingkan, lalu dibakar.
Baca juga: Persiapan Penas XVII, Bupati Gorontalo Resmikan Zona Khas Foodcourt Limboto Bareng BI
Kemudian di masa transisi menggunakan tohetutu atau lampu asli yang terbuat dari damar dan dibungkus daun woka.
Di era modern beralih menggunakan minyak tanah (lampu botol), dan kini kerap dipadukan dengan ribuan lampu listrik atau kelap-kelip untuk menambah kemeriahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber