Senin, 02 MARET 2026 • 11:49 WIB

Apa Itu Cap Go Meh? Mengenal Sejarah, Makna, dan Tradisinya

Author

Rute oroses cap go meh di Kota Gorontalo (Indozone Gorontalo)

GORONTALOCap Go Meh merupakan salah satu perayaan paling meriah dalam kalender lunar bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

Meskipun sering dianggap sebagai bagian dari Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari perayaan hari pertama Imlek.

Namun, apa sebenarnya arti di balik perayaan ini dan mengapa ia begitu penting?

Baca juga: Buka Kepagian, Kursi hingga Piring Rumah Makan di Kota Gorontalo Disita Satpol PP

Arti Nama Cap Go Meh

Secara etimologi, nama Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien. Cap berarti sepuluh, Go berarti lima, Meh berarti malam. Jika digabungkan, Cap Go Meh secara harfiah berarti malam kelima belas. 

Ini menandakan bahwa perayaan ini jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, yang juga bertepatan dengan munculnya bulan purnama pertama di tahun baru tersebut.

Asal-Usul dan Sejarah

Tradisi ini diyakini berasal dari masa Dinasti Han di Tiongkok kuno (206 SM – 220 M). Pada mulanya, ini adalah hari untuk menghormati dewa-dewa dan leluhur. 

Baca juga: Catat! ini Daftar OPD Pemerintah Kabupaten Gorontalo yang Akan Digabung

Di Tiongkok dan Taiwan, perayaan ini lebih dikenal sebagai Festival Lampion (Yuan Xiao Jie).

Konon, lampion dinyalakan sebagai simbol untuk menerangi jalan bagi para dewa dan sebagai bentuk harapan agar kegelapan diusir oleh cahaya kebahagiaan.

Seiring berjalannya waktu, perayaan yang awalnya bersifat religius ini bertransformasi menjadi festival rakyat yang meriah.

Baca juga: Mudik Lebaran 2026: Menhub Minta Gorontalo Waspadai Titik Macet Tradisi Lokal

Tradisi Khas Cap Go Meh di Indonesia

Di Indonesia, Cap Go Meh mengalami akulturasi budaya yang sangat kental. Berikut adalah beberapa tradisi yang paling umum ditemui:

1. Parade Tatung (Singkawang)

Kota Singkawang, Kalimantan Barat, memiliki perayaan Cap Go Meh paling ikonik di dunia. 

Tradisi Tatung melibatkan orang-orang yang dipercaya dirasuki roh leluhur untuk menunjukkan kekebalan tubuh, yang bertujuan untuk menangkal nasib buruk dan mengusir roh jahat.

2. Barongsai dan Liong

Tarian naga (Liong) dan singa (Barongsai) adalah elemen wajib. Suara tabuhan drum dan simbal yang berisik dipercaya dapat mengusir energi negatif dan membawa keberuntungan serta kesuksesan bagi lingkungan sekitar.

3. Lontong Cap Go Meh

Inilah bukti nyata akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Berbeda dengan di Tiongkok yang memakan bola nasi ketan (Yuan Xiao), masyarakat Tionghoa di Indonesia menyantap lontong sayur lengkap dengan opor ayam dan sambal goreng ati. 

Hidangan ini melambangkan asimilasi yang harmonis dan doa untuk rezeki yang melimpah.

Makna Filosofis Cap Go Meh

Lebih dari sekadar pesta pora, Cap Go Meh adalah simbol penutup dari rangkaian perayaan Imlek. 

Jika Imlek dirayakan secara tertutup bersama keluarga inti di dalam rumah, maka Cap Go Meh dirayakan secara terbuka di ruang publik bersama masyarakat luas.

Ini melambangkan keterbukaan, kebersamaan, dan rasa syukur atas awal yang baru. 

Menyalakan lampion juga bermakna melepaskan masa lalu yang buruk dan menyambut masa depan dengan cahaya terang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU