GORONTALO — Di era yang serba cepat ini, ketenangan menjadi kemewahan yang dicari banyak orang.
Kita sering melihat sosok yang tetap stabil, tidak mudah panik, dan selalu mampu berpikir jernih meski situasi di sekitarnya sedang kacau.
Apakah itu bakat bawaan? Ternyata tidak.
Baca juga: Darurat Sampah Indonesia: Dominasi Limbah Rumah Tangga dan Tantangan Pengelolaan
Ketenangan adalah sebuah keterampilan yang dibangun melalui kebiasaan kecil yang konsisten.
Mengutip berbagai pandangan psikologi, orang-orang yang memiliki pembawaan tenang biasanya menerapkan ritual mental tertentu dalam keseharian mereka.
Berikut adalah 5 kebiasaan utama yang dilakukan oleh orang-orang tenang.
Baca juga: 5 Adab Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
1. Memberi Jeda Sebelum Bereaksi
Salah satu ciri utama orang tenang adalah mereka tidak reaktif. Saat menerima kabar buruk atau kritik tajam, mereka tidak langsung membalas dengan emosi yang meledak.
Mereka menggunakan prinsip jeda sejenak, biasanya dengan mengambil napas dalam, untuk memberi ruang bagi logika agar bisa memproses informasi.
Kebiasaan ini mencegah mereka mengucapkan kata-kata yang nantinya akan disesali.
Baca juga: Jadwal Imsakiyah Hari Ke-5 Ramadan 2026 untuk Wilayah Gorontalo
2. Menetapkan Batasan yang Jelas
Orang yang tenang tahu kapan harus berkata tidak. Mereka menyadari bahwa cadangan energi mental mereka terbatas.
Dengan menetapkan batasan, baik itu terkait beban kerja, interaksi sosial, hingga penggunaan media sosial, mereka berhasil menjaga diri dari kelelahan mental.
Mereka tidak merasa bersalah untuk menarik diri sejenak demi memulihkan energi.
3. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Stres sering kali muncul karena kita terlalu memikirkan hal-hal di luar kuasa kita, seperti opini orang lain atau kejadian di masa depan.
Orang tenang mempraktikkan filosofi kontrol: mereka mencurahkan energi hanya pada apa yang bisa mereka ubah (tindakan dan sikap sendiri) dan belajar melepaskan hal-hal yang tidak bisa diintervensi.
4. Rutin Melakukan Dialog Internal yang Positif
Bahasa yang kita gunakan pada diri sendiri menentukan suasana hati kita. Orang tenang cenderung memiliki suara hati yang suportif, bukan kritis.
Alih-alih berkata "Kenapa aku bodoh sekali melakukan kesalahan ini?", mereka akan berpikir "Aku melakukan kesalahan, apa yang bisa kupelajari agar tidak terulang lagi?".
Dialog internal yang sehat ini menjaga kestabilan emosi mereka tetap terjaga.
5. Menghargai Keheningan dan Kesendirian
Dalam dunia yang penuh kebisingan, orang tenang menyisihkan waktu untuk solitude atau kesendirian.
Baik itu melalui meditasi, berjalan kaki tanpa ponsel, atau sekadar duduk diam sambil minum teh.
Momen keheningan ini berfungsi sebagai reset bagi otak, memungkinkan mereka untuk terhubung kembali dengan diri sendiri dan meredam kecemasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber