Selasa, 15 JULI 2025 • 10:14 WIB

IKLK Juni 2025 Turun ke 94,1: Ketersediaan Lapangan Kerja Bikin Warga Kian Pesimis

Author

Ilustrasi pelamar kerja (Istimewa)

GORONTALO - Pengangguran dan minimnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama dalam proses pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.

Padahal, setiap tahun angkatan kerja terus bertambah jumlahnya. 

Mereka yang berstatus lulusan muda dan pekerja sektor informal jelas menjadi kelompok rentan ketimpangan ini.

Baca juga: Temuan PPATK: Banyak Pemerima Bansos Ketahuan Nyasar ke Meja Judi Online

Lapangan Kerja dan Pencari Kerja Tidak Seimbang

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dan lowongan kerja masih berlangsung. 

Walaupun jumlah lowongan kerja mengalami peningkatan, pertumbuhannya tidak mampu menutupi lonjakan jumlah pencari kerja.

Pada tahun 2024, tercatat ada sekitar 909 ribu pencari kerja terdaftar, sedangkan jumlah lowongan kerja hanya mencapai 630 ribu.

Ada selisih sekitar 279 ribu orang yang belum terserap oleh pasar tenaga kerja.

Baca juga: Gorontalo Catat Penurunan Stunting di Tahun 2024, Ini Kuncinya

Warga Makin Pesimis

Pemerintah telah menjalankan berbagai inisiatif penciptaan lapangan kerja, tapi perubahan di sektor industri dan percepatan digitalisasi turut mengubah struktur permintaan tenaga kerja. 

Banyak jenis pekerjaan lama tergantikan oleh otomatisasi dan teknologi baru, sedangkan kebutuhan akan keterampilan digital dan adaptif belum sepenuhnya tersedia di kalangan pencari kerja.

Kondisi ini memperkuat persepsi pesimistis masyarakat terhadap pasar kerja. 

Baca juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Gorontalo Masih Tinggi, Ini Catatan dan Upaya Penanganannya

Dalam Survei Konsumen edisi Juni 2025 yang dilakukan Bank Indonesia (BI), sentimen masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja menunjukkan penurunan.

Survei ini dilakukan terhadap 4.600 rumah tangga yang tersebar di 18 kota besar, dengan salah satu indikator utama adalah Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK), yang mengukur persepsi konsumen terhadap kondisi lapangan kerja saat ini dibanding enam bulan sebelumnya.

Indeks ini menggunakan patokan angka 100: skor di atasnya menandakan optimisme, sedangkan di bawah 100 mengindikasikan pesimisme. 

Pada Juni 2025, IKLK turun ke 94,1, melanjutkan penurunan dari 95,7 pada Mei 2025. Sebelumnya, indeks ini sempat bertahan di atas angka 100, mencerminkan harapan positif masyarakat.

Baca juga: Dua Daerah di Gorontalo Berstatus Tanggap Darurat KLB Malaria, Aktivitas Tambang Ilegal Disorot

Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, responden berusia di atas 60 tahun mencatat angka terendah yaitu 64,3, turun tajam 19,5 poin dibanding bulan sebelumnya. 

Sementara itu, kelompok usia 20–30 tahun juga menunjukkan kecenderungan pesimis dengan indeks sebesar 97,2.

Tren ini menunjukkan bahwa kesulitan mendapatkan pekerjaan semakin dirasakan, tak hanya oleh generasi muda tapi juga kelompok usia lanjut.

Baca juga: Gorontalo Masuk Daftar Provinsi dengan Angka Pekerja Anak Tertinggi di 2024

Apa Kata Pakar?

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai penurunan IKLK selama dua bulan berturut-turut mencerminkan situasi serius di pasar tenaga kerja.

“Ini menandakan labour misallocation (misalokasi tenaga kerja) akut. Ketika tenaga kerja dengan kompetensi tinggi gagal mendapatkan pekerjaan sesuai keterampilannya,” ujarnya dalam pernyataan tertulis pada Jumat (11/7/2025).

Ia juga menyoroti bahwa ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan yang tersedia akan menurunkan produktivitas nasional, dan dalam jangka panjang dapat membuat Indonesia terjebak dalam status negara berpendapatan menengah.

“Dalam jangka panjang, struktur ekonomi dengan mismatch keterampilan akan menurunkan pertumbuhan potensial, menjebak Indonesia dalam middle income trap permanen,” tegas Achmad.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Goodstats, BPS

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU