Ilustrasi orang melaksanakan ibadah haji (Istimewa)
GORONTALO — Di Indonesia, keberangkatan seseorang menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji atau umrah bukan sekadar perjalanan pribadi, melainkan peristiwa besar yang melibatkan keluarga dan kerabat.
Salah satu tradisi yang paling melekat dalam momen ini adalah Walimatussafar.
Tradisi ini menjadi jembatan antara dimensi spiritual (ibadah kepada Allah) dan dimensi sosial (silaturahmi antarsesama).
Baca juga: Wajib Tahu: Ini Daftar Vaksin Syarat Keberangkatan Haji dan Umrah
Namun, apa sebenarnya makna di balik tradisi ini menurut sudut pandang agama? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Secara etimologi, istilah ini berasal dari dua kata bahasa Arab yakni Walimah yang berarti pesta, jamuan, atau perayaan, dan Safar yang berarti perjalanan.
Jika digabungkan, Walimatussafar adalah sebuah jamuan atau acara syukuran yang diselenggarakan untuk melepas calon jemaah yang akan melakukan perjalanan ibadah ke Baitullah.
Baca juga: Prospek Cuaca Sepekan ke Depan, Gorontalo Masuk Radar Waspada Mulai 14 -20 April 2026
Menariknya, tradisi ini juga sering dilakukan saat menyambut kepulangan jemaah haji sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan mereka.
Kegiatan ini biasanya diisi dengan tausiyah singkat, pembacaan doa bersama, serta pemberian sedekah berupa makanan kepada para tamu.
Tujuan utamanya adalah:
Memohon Doa Restu: Meminta doa dari kerabat agar diberikan kelancaran dan menjadi haji yang mabrur.
Baca juga: Pemkab Gorontalo Terima 109 Mahasiswa Universitas Gorontalo, Siap Mengabdi di 12 Desa
Permohonan Maaf: Menjadi momen untuk saling memaafkan agar jemaah berangkat dalam keadaan hati yang bersih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber