3 kalimat tanda perempuan minta tolong (Istimewa)
GORONTALO — Dalam interaksi sosial, sering kali apa yang diucapkan di bibir berbeda jauh dengan apa yang dirasakan di hati.
Bagi banyak perempuan, mengakui bahwa diri mereka sedang tidak baik-baik saja adalah hal yang sulit.
Alhasil, kesedihan atau rasa hampa sering kali terbungkus dalam kalimat-kalimat umum yang terdengar wajar, padahal itu adalah mekanisme pertahanan diri.
Baca juga: Ikhtiar Kabupaten Gorontalo Menyelamatkan Memori Kolektif Lewat Penelusuran Naskah Kuno
Psikologi menyebutnya sebagai masked distress atau tekanan yang terselubung.
Jika Anda atau orang terdekat sering mengucapkan kalimat berikut, mungkin ada beban emosional yang perlu segera diurai:
Sekilas, ini terdengar seperti keluhan seorang yang produktif.
Baca juga: Demo Tambang Ilegal di Gorontalo Berujung Laporan Polisi, Sejumlah Aktivis Diduga Langgar UU Minerba
Namun, bagi seseorang yang sedang tidak bahagia, kesibukan yang ekstrem sering kali menjadi pelarian.
Dengan mengisi setiap detik dalam sehari dengan pekerjaan atau aktivitas, mereka berusaha membungkam suara-suara di kepala yang menyakitkan.
Kesibukan menjadi tameng agar mereka tidak punya ruang untuk merenungi rasa sepi atau ketidakpuasan hidup yang sedang dialami.
Baca juga: Kabupaten Gorontalo Target Naik Kelas KLA: Dari Madya Menuju Kategori Nindya
Kemandirian adalah hal positif, tapi ketika seseorang menolak bantuan secara gigih padahal jelas-jelas sedang kesulitan, ini adalah red flag.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber