Rute oroses cap go meh di Kota Gorontalo (Indozone Gorontalo)
GORONTALO — Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan paling meriah dalam kalender lunar bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Meskipun sering dianggap sebagai bagian dari Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari perayaan hari pertama Imlek.
Namun, apa sebenarnya arti di balik perayaan ini dan mengapa ia begitu penting?
Baca juga: Buka Kepagian, Kursi hingga Piring Rumah Makan di Kota Gorontalo Disita Satpol PP
Secara etimologi, nama Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien. Cap berarti sepuluh, Go berarti lima, Meh berarti malam. Jika digabungkan, Cap Go Meh secara harfiah berarti malam kelima belas.
Ini menandakan bahwa perayaan ini jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, yang juga bertepatan dengan munculnya bulan purnama pertama di tahun baru tersebut.
Tradisi ini diyakini berasal dari masa Dinasti Han di Tiongkok kuno (206 SM – 220 M). Pada mulanya, ini adalah hari untuk menghormati dewa-dewa dan leluhur.
Baca juga: Catat! ini Daftar OPD Pemerintah Kabupaten Gorontalo yang Akan Digabung
Di Tiongkok dan Taiwan, perayaan ini lebih dikenal sebagai Festival Lampion (Yuan Xiao Jie).
Konon, lampion dinyalakan sebagai simbol untuk menerangi jalan bagi para dewa dan sebagai bentuk harapan agar kegelapan diusir oleh cahaya kebahagiaan.
Seiring berjalannya waktu, perayaan yang awalnya bersifat religius ini bertransformasi menjadi festival rakyat yang meriah.
Baca juga: Mudik Lebaran 2026: Menhub Minta Gorontalo Waspadai Titik Macet Tradisi Lokal
Di Indonesia, Cap Go Meh mengalami akulturasi budaya yang sangat kental. Berikut adalah beberapa tradisi yang paling umum ditemui:
Kota Singkawang, Kalimantan Barat, memiliki perayaan Cap Go Meh paling ikonik di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber