Lulusan SMA dominasi pengangguran di Indonesia (Istimewa)
GORONTALO – Di tengah upaya pemerintah memacu pertumbuhan ekonomi pascapandemi, potret ketenagakerjaan nasional mengungkap sebuah ironi besar.
Meskipun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional berhasil turun ke angka 4,74% pada November 2025, kelompok lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) justru terjebak dalam pusaran pengangguran terdalam.
Berdasarkan data BPS, lulusan SMA mencatatkan persentase pengangguran sebesar 29,61%.
Baca juga: 26.000 Anak di Gorontalo Tidak Sekolah, Begini Strategi Pemerintah
Angka ini menempatkan mereka sebagai penyumbang pengangguran terbanyak dibandingkan jenjang pendidikan lainnya, melampaui lulusan SMK yang berada di angka 26,12%.
Tingginya angka pengangguran di level SMA mengindikasikan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara profil lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.
Berbeda dengan SMK yang dibekali keahlian teknis atau Perguruan Tinggi yang memiliki spesialisasi ilmu, lulusan SMA umumnya dipersiapkan untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
Baca juga: 5 Cara Bijak Mengatasi Perasaan Dikucilkan dan Diabaikan
Ketika hambatan ekonomi memaksa lulusan SMA langsung terjun ke dunia kerja, mereka sering kali kalah bersaing karena minimnya keterampilan spesifik (vokasi) yang diminta oleh industri modern.
Akibatnya, mereka menjadi kelompok yang paling lambat terserap oleh pasar tenaga kerja.
Data November 2025 memperlihatkan ketimpangan yang nyata dalam penyerapan tenaga kerja:
Menariknya, lulusan Diploma I-III menjadi kelompok yang paling mudah mendapatkan pekerjaan.
Baca juga: Pemkab Gorontalo Kucurkan Subsidi Rp74,5 Juta Lewat Pasar Murah di Telaga
Hal ini membuktikan bahwa pendidikan yang fokus pada keahlian praktis memiliki daya tawar yang jauh lebih tinggi di mata pemberi kerja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats, BPS