GORONTALO — Udara di Lapangan Boludawa, Bone Bolango, mungkin terasa lebih dingin dari biasanya di malam 22 Januari 1942. Namun, bagi Nani Wartabone dan sekitar 300 warga yang tergabung dalam barisan Hulunga, dinginnya malam bukan tandingan bagi api perlawanan.
Dengan tekad bulat, mereka memulai perjalanan fisik sejauh 11 kilometer menuju jantung Kota Gorontalo. Bukan untuk sekadar berjalan, tapi untuk menjemput sebuah kedaulatan yang telah lama dirampas.
Langkah kaki mereka adalah respons atas keputusasaan Belanda yang menduduki Gorontalo waktu itu. Di awal tahun 1942, posisi Belanda di Nusantara sedang di ujung tanduk. Masuknya tentara Jepang ke Minahasa memaksa pemerintah kolonial di Gorontalo mengambil langkah ekstrem: politik bumi hangus.
Baca juga: Ketika Nani Wartabone Kena Prank Jepang
Melalui Vernielings Corps (VC), Belanda mulai menghancurkan aset-aset vital seperti gudang kopra dan minyak di pelabuhan untuk mencegahnya jatuh ke tangan Jepang.
Tindakan destruktif ini menjadi pemicu bagi para tokoh lokal. Di sebuah rumah di kawasan Ipilo, Kusno Danupoyo menginisiasi pembentukan Komite 12. Komite ini merupakan sebuah kelompok elit perjuangan yang mendapuk Nani Wartabone sebagai komandannya.
Nani tidak bermain-main. Ia secara terang-terangan mengancam para pejabat Belanda untuk menghentikan aksi sabotase tersebut, atau kepala mereka akan menjadi taruhannya.
Baca juga: Mahar Buku di Tengah Deru Peluru: Andil Soekarno Tuntaskan Janji Suci Bung Hatta
Pergerakan senyap dari Suwawa memuncak pada dini hari 23 Januari 1942. Koordinasi dilakukan dengan rapi. Sementara massa rakyat mendekat, tokoh militer seperti Pendang Kalengkongan dan Ardani Ali sudah lebih dulu bergerak menetralisir tangsi polisi.
Aksi kudeta ini tergolong unik dalam sejarah revolusi Indonesia karena berhasil dilakukan tanpa pertumpahan darah.
Nani Wartabone dan pasukannya mengepung rumah-rumah pejabat kunci Belanda satu per satu. Saat menghadapi Kepala Polisi Belanda, Nani dengan tenang, tapi tegas menggertak:
Baca juga: Mengulik Makna dan Filosofi Tari Tidi Lo Polopalo yang Sambut Kedatangan Soekarno ke Gorontalo
"Markas dan tangsi polisi telah dikuasai rakyat. Sebaiknya tuan menyerah saja."
Gertakan itu efektif. Tanpa letusan senjata, para petinggi kolonial, termasuk Kontrolir Petrus dan Lamuqo, digelandang ke balik jeruji besi. Dalam semalam, struktur pemerintahan kolonial yang telah bercokol puluhan tahun runtuh seketika oleh gerakan akar rumput.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber