Bung Karno dan Bung Hatta (ANRI)
GORONTALO - Jumat, 17 Agustus 1945 bukan sekadar momen Indonesia lepas dari penjajahan, melainkan titik balik kehidupan personal Mohammad Hatta.
Sang Wakil Presiden dikenal memiliki sumpah sakti: ia pantang menikah sebelum Indonesia berdaulat.
Setelah proklamasi dikumandangkan, janji tersebut akhirnya tuntas, dan jalan menuju pelaminan pun terbuka lebar.
Baca juga: November: Bulan Bahagia Bung Hatta
Meski sudah merdeka, Hatta yang sangat disiplin ternyata tidak lantas sibuk mencari pendamping.
Hal ini membuat Soekarno merasa bahwa seorang Wakil Presiden sudah seharusnya memiliki pendamping hidup.
Soekarno kemudian mengambil inisiatif menjadi "biro jodoh" bagi sahabatnya itu.
Baca juga: Ketika Nani Wartabone Kena Prank Jepang
Pilihan jatuh pada Siti Rahmiati (Rahmi Rachim), putri dari sahabat Soekarno, Abdul Rachim.
Sebenarnya, Hatta sudah menaruh hati sejak pandangan pertama saat bertemu Rahmi dalam sebuah jamuan makan malam di rumah Sartono dua tahun sebelumnya.
Proses perjodohan ini tidak langsung mulus. Keluarga Rahmi sempat ragu karena perbedaan usia yang cukup jauh; Hatta saat itu berumur 43 tahun, sementara Rahmi baru 19 tahun.
Bahkan Rahmi sendiri merasa rendah diri karena menganggap sosok Hatta yang cerdas terlalu hebat untuknya.
Namun, Soekarno meyakinkan Rahmi dengan kalimat yang melegenda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber