GORONTALO – Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Regional Talumelito, Provinsi Gorontalo kini berada di ambang titik jenuh.
Fasilitas yang awalnya dirancang untuk menampung sampah dalam jangka panjang tersebut diprediksi akan penuh jauh lebih awal dari target yang direncanakan.
Fakta mengkhawatirkan ini mencuat dalam agenda Refleksi Ekonomi 2025 yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo.
Baca juga: BMKG Rilis Prospek Cuaca 5-8 Januari 2026: Waspada Hujan di Gorontalo dan Status Siaga 8 Wilayah
Tingginya volume sampah dari tiga wilayah utama yakni Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Bone Bolango, menjadi beban utama yang memperpendek usia pakai sel pembuangan.
Profesor Sukirman Rahim, dalam kajian mendalamnya mengenai pengelolaan sampah di lokasi tersebut, menyebutkan bahwa perencanaan awal kapasitas sel seharusnya mampu bertahan hingga tujuh tahun.
Namun, realita di lapangan menunjukkan tren yang sangat kontras.
Baca juga: Penganiayaan Dominasi Kasus Kriminalitas di Bone Bolango Sepanjang 2025
“Estimasinya hingga tujuh tahun ke depan. Namun saat ini terancam hanya berumur satu hingga dua tahun ke depan akan segera penuh akibat timbunan sampah yang cukup besar,” ungkap Sukirman.
Disfungsi TPST 3R Memperparah Kondisi
Selain lonjakan volume sampah, Sukirman menyoroti tidak optimalnya Tempat Pemrosesan Sementara (TPST) 3R di wilayah Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.
Tanpa adanya proses pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya, seluruh beban sampah langsung bermuara ke TPA Regional, yang secara otomatis mempercepat kepenuhan sel.
Baca juga: Ada Gorontalo, Ini 10 Provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca Paling Rendah Menurut BPS
Senada dengan hal itu, Kepala Bapppeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan sisi lain dari pertumbuhan wilayah.
Pertambahan penduduk serta aktivitas ekonomi yang bergairah secara linier diikuti oleh peningkatan timbulan sampah.
“Itu sudah menjadi konsekuensi dari kemajuan pembangunan, tapi hendaknya kolaborasi penanganan harus ada,” ujar Wahyudin.
Langkah Mitigasi ke Depan
Pemerintah Provinsi Gorontalo berencana untuk mengupayakan peningkatan kapasitas TPA Regional.
Namun, Wahyudin menegaskan bahwa solusi jangka panjang tetap berada pada kemauan pemerintah kabupaten dan kota untuk mengaktifkan kembali peran TPST 3R di wilayah masing-masing.
Melalui pemilahan di tingkat lokal, beban TPA dapat berkurang drastis sekaligus menghidupkan ekonomi sirkular bagi warga.
“Langkah tersebut juga akan membentuk kemandirian masyarakat serta pemberdayaan dan optimalisasi daur ulang sampah,” pungkas Wahyudin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo