GORONTALO – Peta literasi di Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) tahun 2024, sejumlah wilayah tercatat memiliki skor indeks jauh di bawah rata-rata nasional, 72,44.
Sorotan utama tertuju pada wilayah Indonesia Timur yang mendominasi daftar terbawah.
Baca juga: Provinsi Gorontalo Diguyur Dana Rp1,2 Triliun dari Pemerintah Pusat
Provinsi-provinsi di kawasan ini menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan minat baca.
Rta-rata durasi membaca masyarakatnya hanya berkisar antara 1 hingga 2 jam per hari dengan frekuensi yang minim.
Berikut adalah ulasan mengenai 10 provinsi dengan tingkat kegemaran membaca paling rendah berdasarkan data BPS 2024.
Baca juga: 10 Provinsi Ini Punya Tingkat Kegemaran Membaca Tertinggi Tahun 2024, Ada Gorontalo?
Berada di dasar klasemen, provinsi baru ini mencatatkan skor paling rendah se-Indonesia.
Aktivitas literasi di sini sangat minim, dengan rata-rata masyarakat hanya membaca 3-4 kali seminggu dalam durasi singkat, serta jumlah tamatan buku yang sangat terbatas.
Provinsi induk ini menempati urutan kedua dari bawah. Pola literasi di Papua tidak jauh berbeda dengan wilayah pemekarannya.
Baca juga: Polisi Tetapkan 9 Tersangka Kasus Diksar Mapala UNG yang Tewaskan Mahasiswa Asal Muna
Durasi membaca harian kurang dari dua jam. Uniknya, frekuensi akses internet di wilayah ini sejalan dengan frekuensi aktivitas membaca mereka.
Sedikit lebih tinggi dari provinsi induknya, Papua Tengah berada di posisi ketiga terendah.
Meski skornya menyentuh angka 52, kebiasaan membaca masyarakat di provinsi hasil pemekaran ini masih tergolong rendah dengan jumlah buku yang diselesaikan hanya berkisar 3-4 judul dalam periode tertentu.
Provinsi di ujung timur ini mencatatkan skor 54,82. Data menunjukkan adanya tren menarik yakni intensitas penggunaan internet masyarakat mulai aktif (3-4 kali seminggu), menyaingi durasi waktu yang dialokasikan untuk membaca buku.
Hanya terpaut angka desimal dari Papua Selatan, Papua Barat Daya memiliki karakteristik yang serupa.
Masyarakat di wilayah ini membagi waktu yang hampir setara antara mengakses internet dan membaca, yakni di kisaran 1 hingga hampir 2 jam per hari.
Masih di kawasan yang sama, Papua Barat mencatatkan skor mendekati angka 60.
Namun, secara substansi, minat baca masih perlu didorong karena rata-rata koleksi buku yang dibaca masyarakat masih sangat sedikit.
Keluar dari Pulau Papua, Maluku Utara menjadi provinsi dengan literasi terendah ketujuh.
Di wilayah ini, durasi masyarakat berselancar di dunia maya sudah menyamai durasi waktu membaca mereka, yakni sekitar 1-2 jam sehari.
Di Pulau Sulawesi, Gorontalo masuk dalam daftar ini dengan skor 62,43. Catatan penting bagi "Serambi Madinah" ini adalah frekuensi akses internet masyarakatnya yang tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan intensitas mereka dalam membaca buku.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS, Goodstats