GORONTALO – Dinding beton dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas IIA Gorontalo tak mampu membendung gema sukacita Natal pada Kamis, 25 Desember 2025.
Di tengah keterbatasan ruang gerak, suasana syahdu justru terasa begitu kental saat lantunan doa dan puji-pujian dinyanyikan oleh para warga binaan.
Perayaan kelahiran Yesus Kristus kali ini digelar di gereja lapas dengan konsep yang jauh dari kemewahan, tapi sarat akan kehangatan.
Baca juga: Kasus Narkoba di Gorontalo Meningkat, BNNP Amankan 18 Tersangka Sepanjang 2025
Ibadah tersebut menjadi oase rohani bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Kelas IIA Gorontalo, Sulistyo Wibowo, yang turut hadir dalam ibadah tersebut, mengungkapkan rasa harunya.
Ia melihat semangat yang tak padam dari wajah-wajah warga binaan meski harus merayakan hari besar ini jauh dari kebebasan.
Baca juga: Dua Atlet Gorontalo Pulang Bawa Medali SEA Games 2025 Thailand
"Meski sederhana, teman-teman warga binaan tetap merayakan Natal dengan penuh semangat," kata Sulistyo.
"Kami sebagai petugas terus memberikan dukungan agar mereka dapat menjalani ibadah dengan khidmat," sambungnya.
Momen ini terasa lebih spesial karena pihak Lapas memberikan kelonggaran bagi keluarga inti untuk hadir.
Baca juga: Kado Akhir Tahun, TPP Desember ASN Kota Gorontalo Segera Cair
Mengingat jumlah jemaat nasrani yang tidak terlalu besar, gereja lapas masih mampu menampung kehangatan pertemuan antara warga binaan dan orang-orang terkasih mereka.
"Tahun ini ada 15 warga binaan beragama Kristen yang mengikuti ibadah Natal. Kami juga bersyukur karena ada beberapa keluarga warga binaan yang ikut hadir," jelas Sulistyo.
Dalam pesan Natal-nya, Sulistyo mengingatkan bahwa masa hukuman bukanlah titik akhir dari kehidupan.
Ia mendorong para warga binaan untuk menjadikan momentum Natal sebagai titik balik perbaikan diri.
"Lapas bukan akhir dari segalanya. Warga binaan masih punya kesempatan untuk berbenah diri dan menjadi pribadi yang lebih baik ke depan," tegasnya memberikan motivasi.
Sementara itu, Yopi, salah satu warga binaan, tak menampik adanya rasa rindu yang membuncah akan suasana rumah.
Bagi pria yang sudah tiga kali melewati Natal di balik jeruji ini, perbedaannya memang terasa nyata.
"Suasananya pasti berbeda. Biasanya Natal bersama keluarga, sekarang bersama teman-teman sesama warga binaan," ungkap Yopi.
Kendati demikian, Yopi tetap memeluk hikmah di balik musibah.
Natal baginya tetaplah pembawa harapan, sebuah doa agar kelak ia bisa kembali ke tengah masyarakat sebagai manusia baru.
"Harapannya dengan Natal ini kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik, cepat bebas, dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga," pungkasnya penuh harap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan