Selasa, 02 DESEMBER 2025 • 08:05 WIB

Alarm HIV Gorontalo: Kasus Terus Bertambah, Stigma Harus Hilang

Author

Kasus HIV di Gorontalo alami kenaikan tahun 2025, ratusan remaja terpapar (Istimewa)

GORONTALO – Tren peningkatan kasus HIV di Provinsi Gorontalo yang terus terjadi setiap bulannya kini menjadi alarm bahaya. 

Situasi ini menuntut perhatian serius, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat terhadap para pengidapnya.

Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah, menyoroti lonjakan angka ini sebagai peringatan keras. 

Baca juga: Wali Kota Gorontalo ke Nakes: Jangan Tanya KTP Dulu Baru Layani Pasien

Menurutnya, penanggulangan wabah ini tidak bisa berjalan efektif jika hanya dibebankan pada satu pihak saja.

“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” kata Idah, Senin, 1 Desember 2025.

Musuh Utama ialah Stigma Sosial

Hambatan terbesar dalam menekan angka penularan sering kali datang dari stigma negatif masyarakat.

Ketakutan yang tidak berdasar membuat Orang dengan HIV (ODHIV) merasa terisolasi, membentuk komunitas tertutup, hingga enggan mengakses layanan kesehatan karena takut dihakimi.

Baca juga: BPOM Ungkap 5 Produk Pangan Ilegal Terlaris di Marketplace, Ada Milo Cube hingga Hacks Candy

Padahal, penularan HIV tidak terjadi melalui interaksi sosial biasa. 

Bersentuhan, berjabat tangan, atau berpelukan dengan ODHIV sama sekali tidak menularkan virus. 

Edukasi publik ini menjadi kunci agar penderita tidak semakin terpuruk secara mental.

Baca juga: Resmi Dilantik, DPC Peradi SAI Gorontalo Siap Perkuat Integritas dan Kualitas Advokat

“Jangan memberi cap bahwa mereka menular hanya karena ngobrol atau berjabat tangan,” tegasnya.

ARV Gratis dan Disiplin

Di sisi penanganan medis, Pemerintah Provinsi Gorontalo memastikan kehadiran negara dengan menyediakan obat Antiretroviral (ARV) secara gratis. 

Obat ini vital untuk menekan jumlah virus dalam tubuh ODHIV agar mereka tetap bisa hidup sehat dan produktif.

Namun, fasilitas gratis ini akan sia-sia tanpa kepatuhan pasien. Kedisiplinan mengonsumsi obat adalah harga mati dalam terapi HIV.

“Kalau tidak disiplin, tidak ada gunanya,” tambah Idah.

Selain intervensi medis, pendekatan psikologis juga digencarkan untuk mendampingi ODHIV menghadapi tekanan mental. 

Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia tersebut, Idah juga mengapresiasi langkah positif dari kelompok berisiko yang mulai berani mengubah perilaku dan kembali ke identitas asal demi menjauhi risiko penularan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pemprov Gorontalo

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU