Selasa, 16 SEPTEMBER 2025 • 14:26 WIB

Bupati Gorontalo: Penanganan Buta Aksara Butuh Program Terarah dan Harus Tuntas

Author

Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi minta penanganan buta aksara harus tuntas (Humas Pemkab Gorontalo)

GORONTALO – Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, menegaskan bahwa peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi penanganan buta aksara di daerah.

Menurutnya, program yang ada perlu lebih terarah dan menyentuh masyarakat di lapisan bawah.

“Momentum HAI ini jadi momentum kita mengevaluasi diri terkait program penanganan buta aksara. Ini butuh program yang lebih runut ke bawah lagi," kata Sofyan, Senin, 15 September 2025 kemarin.

Baca juga: Warga Blokir Jalan Rusak di Pentadio Barat, PU: Sabar Sedikit

Selain itu, Sofyan menegaskan bahwa program wajib belajar 13 tahun di Kabupaten Gorontalo harus benar-benar dituntaskan.

Dukungan penuh perlu diberikan, mulai dari ketersediaan sarana dan prasarana, kualitas pembelajaran, hingga fasilitas belajar bagi siswa.

"Kita harus pastikan program wajib belajar 13 tahun di Kabupaten Gorontalo harus tuntas. Baik dari sarana prasarananya, pembelajaran, fasilitas belajarnya, semuanya harus didukung,” tegas Sofyan.

Baca juga: Warga Pentadio Barat Blokade Jalan Rusak, Dibuka Setelah Ada Perbaikan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang digunakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, angka buta aksara di daerah ini memang masih fluktuatif.

Tahun 2021 tercatat 1,37 persen, naik menjadi 2,00 persen pada 2022, lalu menurun ke 1,54 persen di 2023, dan kembali turun ke 1,39 persen pada 2024.

Kabid Pendidikan Non-Formal Dikbud Kabupaten Gorontalo, Agustina, menjelaskan bahwa fluktuasi ini terjadi karena banyak faktor yang memengaruhi peserta didik.

“Mulai dari ekonomi, jarak sekolah yang jauh, hingga ada yang sudah terlanjur menikah. Itu penyebabnya banyak yang putus sekolah di Kabupaten Gorontalo,” ujarnya.

Baca juga: Angka Buta Aksara di Kabupaten Gorontalo Cenderung Turun, Tapi Mengapa Belum Tuntas?

Ia menambahkan, wilayah paling rentan adalah bagian barat Kabupaten Gorontalo, khususnya di Asparaga dan Tolangohula. Tahun lalu, ada 291 warga yang berhasil lulus dari program keaksaraan dasar.

Tahun ini, pihaknya mengusulkan 500 peserta lagi untuk program serupa yang dibiayai dari dana BOP keaksaraan dasar dan lanjutan dari kementerian.

Selain itu, pihaknya juga memperluas jangkauan pendidikan non-formal melalui penambahan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Saat ini terdapat 23 PKBM yang bekerja sama dengan pemerintah desa dan kelurahan untuk mendata warga putus sekolah.

Menurut Agustina, tantangan terbesar adalah mengajak warga usia lanjut kembali belajar, karena kelompok ini masih terhitung dalam angka buta aksara.

“Inovasi kami salah satunya melaksanakan kegiatan menarik agar siswa mau ikut pendidikan non-formal. Misalnya, peringatan Hari Aksara kali ini dirangkaikan dengan kegiatan pramuka, olahraga, dan lain-lain,” jelasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU