Selasa, 16 SEPTEMBER 2025 • 11:31 WIB

Angka Buta Aksara di Kabupaten Gorontalo Cenderung Turun, Tapi Mengapa Belum Tuntas?

Author

Kepala bidang pendidikan non-formal Dikbud Kabupaten Gorontalo, Agustina (Indozone Gorontalo)

GORONTALO – Angka buta aksara di Kabupaten Gorontalo menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, persoalan ini belum sepenuhnya tuntas karena masih ada warga yang belum bisa mengakses pendidikan dasar secara merata.

Kabid Pendidikan Non-Formal Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Agustina, menyebut data BPS menunjukkan fluktuasi, meski cenderung menurun.

Baca juga: Pajak Sarang Burung Walet di Kabupaten Gorontalo Lesu, Realisasi Baru 33 Persen

Pada 2021 angka buta aksara tercatat 1,37 persen, naik menjadi 2,00 persen di 2022, lalu kembali turun menjadi 1,54 persen di 2023, dan 1,39 persen di 2024.

“Memang dia fluktuatif setiap tahun, tapi arahnya menurun. Harapannya, dengan program pendidikan non-formal angka buta aksara bisa terus ditekan,” kata Agustina saat ditemui Selasa, 16 September 2025.

Mengapa Belum Tuntas? Menurutnya, ada banyak alasan mengapa angka buta aksara sulit dihapus tuntas di Kabupaten Gorontalo.

Baca juga: Realisasi Pajak Kabupaten Gorontalo 2025, Jasa Perhotelan Tembus 284 Persen

Mulai dari faktor ekonomi, jarak sekolah yang jauh, hingga pernikahan dini yang membuat anak putus sekolah di usia muda.

Sementara wilayah paling rentan buta aksara di Kabupaten Gorontalo yakni bagian barat, seperti Tolangohula, dan Asparaga.

"Yang rentan itu di bagian barat, seperti di Asparaga, Tolangohula sana," ungkapnya.

Baca juga: Hanya Latihan 40 Hari, MIN 2 Kabupaten Gorontalo Tampil All Out dan Sabet Juara Umum di HMF 2025

Meski begitu, pihaknya rerus menekan angka buta aksara, baik di wilayah tersebut maupun wilayah lain lewat program keaksaraan dasar dan lanjutan.

"Kita sudah dua tahun ini dapat program BOP keaksaraan dasar dan lanjutan dari kementerian. Alhamdulillah tahun lalu ada 291 siswa sudah lulus lewat program keeaksaraan dasar. Tahun ini juga kita sudah mengusul 500 siswa yang akan mengikuti program yang sama," ungkapnya.

Apa Upaya yang Dilakukan?

Selain mengoptimalkan program BOP keaksaraan dasar dan lanjutan, pemerintah juga terus memperluas jangkauan satuan pendidikan non-formal.

Baca juga: Ratusan Abang Bentor di Kota Gorontalo Dapat Voucher BBM Seharga Rp200 Ribu dari Pemerintah

Saat ini, jumlah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terus bertambah.

Tercatat sudah ada 23 PKBM di Kabupaten Gorontalo yang bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mendata warga putus sekolah.

"Inovasi lain juga kami lakukan seperti kegiatan Hari Aksara kami rangkaikan dengan pramuka, olahraga, dan aktivitas menarik lainnya agar masyarakat mau ikut sekolah lagi,” tambah Agustina.

Tantangan dan Harapan

Meski begitu, tantangan terbesar masih ada di tingkat PKBM. Mengajak warga, terutama yang sudah berusia lanjut, kembali bersekolah bukan perkara mudah. Padahal, kelompok usia ini tetap dihitung dalam angka buta aksara.

Selain itu, pembiayaan pendidikan non-formal juga terbatas. Pemerintah hanya menanggung hingga usia 25 tahun. Warga di atas batas umur tersebut harus menanggung biaya mandiri.

“Kita laksanakan mendorong satuan pendidikan melakukan pendataan masyarakat yang masih buta aksara untuk mengikuti program keaksaraan dasar karena ada stimulus dari pemerintah pusat," ungkapnya.

"Kemudian untuk tahun depan harapan kami program dari pusat ini bisa dilaksanakan oleh pemerintah daerah supaya bisa ada dua sumber dana bisa kita gunakan. Walaupun saat ini untuk support dari pemerintah dawrah sudah sangat luar biasa," pungkasnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU