GORONTALO — Kekayaan budaya Indonesia tercermin jelas melalui deretan rumah tradisionalnya, tak terkecuali di Provinsi Gorontalo.
Rumah adat Gorontalo bukan sekadar tempat bernaung, melainkan simbol peradaban yang memadukan unsur kepercayaan, fungsi sosial, dan kearifan lokal.
Di antara berbagai jenis yang ada, Dulohupa dan Bantayo Poboide menjadi dua ikon yang paling dikenal luas oleh masyarakat.
Baca juga: Perkokoh Persatuan, Pemkab Gorontalo dan Tokoh Adat Gelar Doa Lo Ulipu
Dibangun dengan konsep rumah panggung, hunian tradisional ini merepresentasikan struktur tubuh manusia dan nilai-nilai Islam yang kental.
Setiap sudut bangunannya menyimpan makna mendalam, menjadikannya warisan sejarah yang sangat berharga untuk dipelajari.
1. Rumah Adat Dulohupa: Balai Musyawarah yang Sakral
Masyarakat setempat sering menyebutnya Yiladia Dulohupa Lo Ulipu Hulondhalo.
Baca juga: 5 Etika Mahal yang Membuatmu Disegani Orang Lain
Secara fungsional, rumah ini merupakan pusat pengambilan keputusan penting, mulai dari musyawarah adat hingga pengadilan perkara di masa kerajaan.
Karakteristik Arsitektur Dulohupa:
Struktur Panggung: Menggambarkan anatomi manusia; atap sebagai kepala, badan rumah sebagai tubuh, dan pilar sebagai kaki.
Atap Berlapisan: Berbentuk segitiga bersusun dua yang melambangkan syariat dan adat. Bagian atas merepresentasikan ketuhanan, sementara bagian bawah melambangkan budaya lokal.
Baca juga: Bukan Hanya Mengajar: 7 Pelajaran Hidup dari Anak yang Wajib Diserap Orang Tua
Simbolisme Pilar: Memiliki 32 pilar penyangga utama (potu) dan 2 pilar utama (wolihi) yang menyokong keberdirian bangunan secara kokoh.
Filosofi Tangga: Jumlah anak tangga biasanya 5 atau 7. Angka 5 merujuk pada Rukun Islam dan filosofi hidup warga, sedangkan angka 7 menggambarkan tingkatan nafsu manusia.
2. Rumah Adat Bantayo Poboide: Pusat Kegiatan Sosial
Berbeda dengan Dulohupa yang kental dengan fungsi pengadilan, Bantayo Poboide lebih banyak digunakan untuk perayaan adat, pesta pernikahan, hingga penerimaan tamu negara.
Keunikan Bantayo Poboide:
Material Kayu Pilihan: Bangunan ini didominasi kayu hitam (untuk ukiran, pagar, dan kusen) serta kayu cokelat (untuk lantai, dinding, dan pintu), menciptakan nuansa estetika yang kontras namun harmonis.
Makna Delapan Tiang: Terdiri dari 2 tiang luar (wolihi) yang melambangkan persatuan abadi Kerajaan Limutu dan Gorontalo, serta 6 tiang lain yang mewakili karakteristik masyarakat lokal.
Pembagian Ruang yang Teratur: Bangunan ini terbagi menjadi lima area utama, mulai dari serambi depan, ruang tamu yang memanjang, ruang tengah yang luas untuk pertemuan besar, hingga ruang belakang sebagai area servis (dapur dan kamar mandi).
Eksistensi rumah adat Gorontalo membuktikan betapa kuatnya pengaruh budaya Gorontalo dalam arsitektur hunian.
Dengan memahami detail setiap struktur, kita belajar bahwa sebuah bangunan bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan moral dan spiritual lintas generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber