Seorang bayi saat proses molunggelo (Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Gorontalo)
GORONTALO — Bagi masyarakat Provinsi Gorontalo, kelahiran seorang anak disambut dengan deretan ritual adat yang sarat makna.
Salah satu yang paling ikonik adalah Molunggelo atau mopota’e to lulunggelo.
Tradisi ini bukan sekadar menidurkan bayi di ayunan, melainkan sebuah pernyataan kasih sayang dan doa yang telah diwariskan turun-temurun.
Baca juga: Membangun Negeri dengan Hati: 25 Sikap Pemimpin Ideal dalam Perspektif Adat Gorontalo
Berikut adalah 5 poin utama untuk memahami kedalaman tradisi Molunggelo.
Molunggelo secara harfiah berarti menaikkan bayi ke buaian (Lulunggela atau buwe-buwe).
Secara filosofis, ritual ini melambangkan kewajiban seorang ibu dalam merawat, melindungi, dan memberikan kenyamanan fisik bagi buah hatinya.
Baca juga: Bukan Sekadar Penutup Meja, Ini 5 Evolusi Menarik Sejarah Taplak Meja
Dahulu, penggunaan ayunan juga berfungsi praktis untuk menjaga bayi agar aman dari gangguan binatang di lantai.
Tradisi ini dikategorikan sebagai bagian dari sastra lisan Gorontalo. Selama prosesi, seorang Hulango (bidan kampung) akan menuturkan syair-syair suci.
Syair ini berupa lafalan doa saat bayi dimandikan, saat akan diletakkan di ayunan, hingga saat prosesi menaburkan beras lima warna.
Baca juga: Sering Overthinking? Ini 5 Alasan Mengapa Sikap 'Bodo Amat' Itu Perlu
Dalam pelaksanaannya, Molunggelo menggunakan berbagai perangkat adat yang masing-masing memiliki nilai kepercayaan tertentu.
Selain Lulunggela sebagai alat utama, terdapat atribut lain seperti:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber