Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 11:07 WIB

Bukan Wajib, tapi Sunnah: Ini 4 Hal tentang Salat Tarawih yang Wajib Kamu Tahu

Author

Ilustrasi orang salat tarawih di bulan Ramadan (Istimewa)

GORONTALO — Setiap kali hilal Ramadan tampak, suasana masjid seketika berubah menjadi lebih hidup. 

Saf-saf penuh sesak, dan lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu mengiringi salah satu ibadah paling ikonis di bulan suci ini yakni Salat Tarawih.

Meski telah menjadi rutinitas tahunan, sering kali muncul diskusi mengenai dasar hukum, jumlah rakaat, hingga waktu terbaik pelaksanaannya. 

Baca juga: 6 Kue Favorit Buka Puasa di Gorontalo: Gurih, Manis, dan Bikin Nagih

Merujuk pada hadis-hadis sahih, berikut adalah empat poin krusial yang perlu kita pahami agar ibadah Tarawih kita semakin mantap.

1. Tarawih Adalah Ibadah Sunnah, Bukan Kewajiban

Banyak yang merasa terbebani jika melewatkan satu malam tanpa Tarawih seolah-olah puasanya tidak sempurna. 

Namun, sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW justru pernah sengaja tidak keluar ke masjid untuk mengimami Tarawih.

Baca juga: Panduan Lengkap Shalat Tarawih: Niat, Jumlah Rakaat, dan Tata Caranya

Dalam riwayat Aisyah RA, Nabi SAW berhenti mengimami jamaah di malam ketiga atau keempat karena khawatir jika dilakukan terus-menerus, umat Islam akan menganggap Tarawih sebagai kewajiban yang memberatkan (HR. Bukhari). 

Ini adalah bentuk kasih sayang beliau agar umatnya menjalankan ibadah ini sebagai pilihan yang penuh keridaan, bukan beban syariat.

2. Tidak Setiap Malam Nabi SAW Melaksanakan Tarawih Berjamaah

Rasulullah SAW tidak menjadikan salat Tarawih secara berjamaah di masjid sebagai rutinitas harian yang mutlak sepanjang bulan. 

Baca juga: Pemerintah Kabupaten Gorontalo Akan Gelar Tonggeyamo Hari Ini

Hal ini diperjelas dalam hadis Abu Dzar RA yang menyebutkan bahwa Nabi SAW tidak mengimami para sahabat setiap malam.

Baru pada sisa tujuh malam terakhir Ramadan, beliau mulai mengimami jamaah dalam durasi yang cukup panjang. 

Fleksibilitas ini menunjukkan bahwa Tarawih berjamaah di masjid adalah sebuah pilihan istimewa yang dianjurkan, namun Nabi SAW sendiri memberi ruang bagi umatnya untuk mengerjakannya secara mandiri.

Baca juga: Zakat Fitrah Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 Ditetapkan Sebesar Rp40.000

3. Jumlah Rakaat Berdasarkan Praktik Nabi SAW

Diskusi mengenai jumlah rakaat sering kali menjadi topik hangat di masyarakat. 

Namun, jika merujuk pada kesaksian Aisyah RA, Rasulullah SAW tidak pernah melakukan salat malam lebih dari 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadan (HR. Bukhari & Muslim). 

Jumlah ini sudah mencakup salat malam (Tarawih) sekaligus salat Witir sebagai penutup.

4. Waktu Pelaksanaan: Antara Awal Malam dan Sepertiga Malam

Secara umum, masyarakat mengerjakan Tarawih di awal malam tepat setelah salat Isya agar bisa berjamaah di masjid. 

Hal ini sangat baik untuk mengejar keutamaan pahala salat satu malam penuh bagi mereka yang mengikuti imam hingga selesai.

Namun, jika meninjau sisi keutamaan, salat ini juga sangat dianjurkan dilakukan pada larut malam. 

Rasulullah SAW pernah keluar ke masjid pada waktu yang sudah sangat larut untuk salat bersama para sahabat hingga hampir mendekati waktu sahur. 

Ini menunjukkan bahwa waktu sepertiga malam memiliki nilai kekhusyukan yang lebih tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Muhammadiyah

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU