Rabu, 21 JANUARI 2026 • 08:46 WIB

Mengulik Makna dan Filosofi Tari Tidi Lo Polopalo yang Sambut Kedatangan Soekarno ke Gorontalo

Author

Tari Tidi Lo Polopalo penyambut tamu besar di Gorontalo (Infopublik)

GORONTALOProvinsi Gorontalo merupakan rumah bagi ribuan tahun adat yang terjaga. Salah satu pusaka yang paling ikonik adalah Tari Tidi Lo Polopalo

Tarian ini bukan sekadar gerak tubuh, melainkan sebuah narasi agung yang bahkan pernah mengiringi langkah Presiden Soekarno saat kunjungan bersejarahnya ke Gorontalo pada November 1951.

Meskipun kala itu kedatangan Bung Karno diwarnai tensi politik dan protes massa, tradisi penyambutan melalui tarian klasik ini tetap menjadi simbol penghormatan tertinggi dari rakyat Gorontalo.

Baca juga: Kuliner Khas Gorontalo yang Wajib Dicoba: Dari Akulturasi Arab hingga Simbol Perdamaian

Tari Tidi lo Polopalo memang dimainkan untuk menyambut tamu-tamu besar. Berikut adalah 5 filosofi mendalam di balik Tari Tidi Lo Polopalo.

1. Tarian Klasik dari Bilik Istana

Lahir sejak era Raja Eyato (1672), Tidi Lo Polopalo awalnya adalah tarian eksklusif bagi kalangan bangsawan dan putri keraton. Tidi sendiri berarti tari. 

Karena sifatnya yang klasik dan sarat akan pesan moral, setiap elemennya, mulai dari busana hingga syair, bersifat baku. 

Baca juga: Dumalo: Kuliner Khas Gorontalo Sajian Ikonik di Meja Tamu saat Lebaran di Gorontalo

Mengubah gerakannya berarti merusak pesan suci yang dititipkan leluhur.

2. Polopalo: Simbol Perisai dalam Rumah Tangga

Nama tarian ini diambil dari alat musiknya, Polopalo. Terbuat dari bambu atau pelepah rumbia, alat musik ini dimainkan dengan cara digetarkan. 

Secara filosofis, Polopalo adalah simbol penangkis. Getarannya bermakna sebagai doa agar sang pengantin perempuan mampu menangkis segala godaan dan rintangan dalam rumah tangga.

Baca juga: Mengenali Topeng Empati: 5 Tanda Seseorang Hanya Pura-pura Peduli Padamu

3. Ladenga: Membangun Fondasi dari Segala Penjuru

Dalam tarian ini, terdapat properti bernama Ladenga yang berbentuk segi empat. Bentuk ini melambangkan kesiapan seorang istri untuk membangun dan melindungi rumah tangga dari segala arah (empat penjuru mata angin). 

Ini mengajarkan bahwa ketahanan keluarga bergantung pada kewaspadaan dan keikhlasan di setiap sudut kehidupan.

4. Akulturasi Islam dan Adat 

Seiring menguatnya syiar Islam di Gorontalo, Tidi Lo Polopalo beradaptasi dengan falsafah "Adat Bersandi Syara, Syara Bersandi Kitabullah". 

Segala aspek, mulai dari tertutupnya pakaian hingga syair yang dilantunkan, mengandung doa agar pasangan menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah.

5. Tujuh Nasihat Kehidupan dalam Setiap Gerakan

Tarian ini adalah sebuah "buku petunjuk" hidup bagi perempuan. Berikut adalah beberapa gerakan ikonik dan maknanya:

• Memalingkan Muka: Simbol bahwa setiap tindakan harus diawali dengan pemikiran yang matang.

• Mendayung: Kesiapan mendampingi suami dalam suka dan duka.

• Turun dari Papan: Kesiapan menghadapi tantangan dunia luar.

• Tangan Sejajar Perut: Ajakan untuk selalu bercermin pada adat istiadat leluhur.

• Tangan di Bahu & Pinggang: Makna bahu-membahu dan saling mendukung antar pasangan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU