Alasan publik Indonesia menunda pernikahan (Istimewa)
GORONTALO — Narasi mengenai nikah muda belakangan ini kembali mencuat di ruang digital, memicu perdebatan hangat di kalangan netizen.
Namun, di balik keriuhan media sosial tersebut, data justru menunjukkan fakta sebaliknya yakni masyarakat Indonesia kini jauh lebih kalkulatif.
Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai perlombaan, melainkan sebuah rencana jangka panjang yang membutuhkan fondasi kuat.
Baca juga: Pelarian Sindikat Curanmor Lintas Provinsi di Gorontalo Berakhir
Berdasarkan laporan terbaru dari Litbang Kompas (Januari 2026), terdapat pergeseran prioritas yang nyata di kalangan publik yang belum menikah.
Berikut adalah sederet alasan utama mengapa pelaminan kini harus antre di belakang kata mapan.
Bukan tanpa alasan ekonomi menjadi pertimbangan utama. Sebanyak 36,9% responden secara tegas menyatakan bahwa mereka menunggu hingga mapan secara ekonomi sebelum memutuskan menikah.
Baca juga: Kabar Baik! Gaji ASN Pemprov Gorontalo Mulai Cair Bertahap, Ini Skemanya
Di tengah ketidakpastian biaya hidup dan tuntutan gaya hidup modern, kemandirian finansial dianggap sebagai syarat mutlak untuk membangun rumah tangga yang stabil dan bahagia.
Hampir setara dengan faktor ekonomi, 36,6% responden memilih untuk fokus pada pengembangan karier.
Bagi banyak individu, usia muda adalah waktu emas untuk membangun portofolio dan mencapai posisi tertentu dalam pekerjaan.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang tidak ingin peran domestik menghambat potensi profesional mereka sebelum waktunya.
Baca juga: Hiu Paus Botubarani: Rekomendasi Wisata Alam yang Instagramable di Gorontalo
Menemukan belahan jiwa ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebanyak 23,7% responden mengaku belum menikah karena belum menemukan pasangan yang cocok.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Litbang Kompas, Goodstats