GORONTALO – Jauh sebelum gedung-gedung modern berdiri di Kelurahan Biawu, Kota Selatan, Kota Gorontalo, sebuah peradaban besar bermula dari pertemuan dua sungai, Sungai Bolango dan Sungai Tapa.
Di sana, pada tahun 1495, berdiri sebuah bangunan yang hingga kini menjadi jantung spiritual masyarakat Gorontalo bernama Masjid Hunto Sultan Amay.
Masjid ini bukan sekadar bangunan tua berbahan kayu dan batu. Masjid inj adalah simbol keberanian seorang pria dalam mengejar cinta, sekaligus titik balik sebuah kerajaan meninggalkan masa lalu untuk memeluk cahaya Islam.
Baca juga: 5 Tradisi Menyambut Ramadan di Gorontalo: Dari Ritual Doa hingga Aroma Rempah Langgilo
Mahar Cinta yang Mengubah Sejarah
Kisah Masjid Hunto adalah kisah romantika yang agung. Syahdan, Raja Amay yang kala itu masih memimpin Kerajaan Hulonthalangi, jatuh hati pada Putri Boki Owutango dari Kerajaan Palasa, Sulawesi Tengah.
Namun, sang putri bukan hanya dikenal karena kecantikannya, melainkan juga keteguhan imannya sebagai seorang muslim.
Raja Palasa memberikan syarat yang tidak ringan jika Raja Amay ingin mempersunting sang putri. Raja Amay dan seluruh rakyatnya harus memeluk Islam.
Baca juga: 5 Kalimat yang Menunjukkan Ketenangan Batin Seseorang
Tanpa ragu, cinta menuntun sang Raja menuju jalan hidayah. Ia memenuhi semua syarat itu, termasuk mendirikan sebuah masjid sebagai mahar pernikahan yang mewah bagi sang pujaan hati.
Nama Hunto sendiri merupakan akronim dari ilohuntungo, yang secara filosofis bermakna tempat berkumpul untuk mendapatkan pencerahan agama.
Perpisahan dengan Masa Lalu: Sumpah Adat Bontho
Transisi agama di tanah Gorontalo dilakukan dengan pendekatan budaya yang unik. Sebelum sepenuhnya melarang konsumsi makanan yang diharamkan dalam Islam, Raja Amay menggelar pesta rakyat besar-besaran dengan hidangan daging babi.
Baca juga: Gagal Move On? Ini 5 Rahasia Ampuh Membantu Sahabat Sembuh dari Luka Hati
Di momen tersebut, dilakukanlah sumpah adat yang dikenal dengan Bontho, sebuah ikrar bersama rakyat bahwa hari itu adalah kali terakhir mereka menyentuh daging babi sebelum akhirnya bersyahadat.
Arsitektur dan Pusaka yang Tak Lekang Waktu
Meskipun telah berdiri lebih dari lima abad dan mengalami beberapa kali renovasi, struktur asli Masjid Hunto seluas 12x12 meter tetap dipertahankan.
Masjid ini menampilkan harmoni ornamen bergaya Turki dan India dengan ukiran kaligrafi Asmaul Husna yang memanjakan mata.
Di dalamnya, waktu seolah berhenti. Terdapat berbagai artefak kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu, seperti:
Sumur Tua Legendaris: Dibangun menggunakan campuran kapur dan putih telur burung Maleo sebagai perekat batu. Konon, mata airnya tidak pernah kering dan dipercaya memiliki khasiat penyembuhan.
Mimbar dan Bedug Kuno: Mimbar kayu berornamen Gujarat dan bedug dari kayu randu yang tetap terjaga selama ratusan tahun.
Makam Sultan Amay: Berada tepat di area mihrab, Sultan yang kelak dinobatkan sebagai pelopor Islam di Gorontalo ini dimakamkan berdampingan dengan para ulama besar yang ia datangkan langsung dari Arab Saudi, seperti Syekh Syarif Abdul Aziz.
Gerbang Masuk Jazirah Gorontalo
Dahulu, daratan Gorontalo masih didominasi perairan, dan wilayah Hunto adalah pelabuhan utama tempat bersandarnya perahu-perahu pedagang asing.
Sebuah pohon Kalumpang (Alumbango) tua di belakang masjid hingga kini dianggap sebagai saksi sejarah tempat para pelaut menambatkan tali perahu mereka.
Kini, Masjid Hunto Sultan Amay telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Ia berdiri kokoh bukan hanya sebagai situs arkeologi, melainkan sebagai monumen kesetiaan seorang lelaki kepada pasangannya, dan kesetiaan sebuah bangsa kepada keyakinannya.
Berkunjung ke masjid ini adalah perjalanan melintasi waktu, merasakan kembali desir angin dari masa 500 tahun silam saat azan pertama kali berkumandang di tanah Gorontalo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber