GORONTALO – Tidak lama lagi umat muslim di dunia akan menyambut bulan suci Ramadan.
Ada berbagai tradisi yang dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan Ramadan, termasuk di Provinsi Gorontalo.
Bagi masyarakat Gorontalo, datangnya bulan suci Ramadan bukan sekadar pergantian kalender hijriah.
Baca juga: 5 Kalimat yang Menunjukkan Ketenangan Batin Seseorang
Di daerah berjuluk Bumi Serambi Madinah ini, bulan Ramadan disambut dengan rangkaian ritual yang memadukan kedalaman spiritualitas Islam dengan kehangatan kearifan lokal.
Tradisi-tradisi ini menjadi jembatan antara rasa syukur kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada para leluhur.
Berikut adalah potret keunikan tradisi masyarakat Gorontalo dalam menjemput bulan mulia.
Baca juga: Ada Gorontalo, Ini 10 Provinsi dengan Tingkat Kegemaran Membaca Paling Rendah Menurut BPS
Sebagai pembuka, warga biasanya menggelar Mongaruwa atau doa arwah. Ini adalah momen sakral yang sulit dilewatkan menjelang Ramadan.
Mongaruwa dilakukan sebagai sarana mendoakan anggota keluarga yang telah berpulang agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Tradisi ini mempererat ikatan kekeluargaan melalui doa bersama atau tahlilan yang dipimpin oleh seorang imam atau dalam bahasa Gorontalo disebut ti imamu.
Baca juga: 5 Ritual Me Time Paling Ampuh untuk Introvert Kembali Segar
Mongaruwa tak sekadar duduk bersila sembari mendoakan keluarga yang berpulang lebih dulu.
Tak lengkap rasanya Mongaruwa tanpa hidangan khas, yakni nasi kuning, pisang, dan tiliaya, panganan manis nan legit dari telur dan gula aren yang menjadi simbol kemanisan ibadah yang akan dijalani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber