GORONTALO – Sebuah fakta menarik terungkap dalam agenda Diskusi Akhir Tahun bertajuk Refleksi Ekonomi 2025 dan Outlook 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Ibu kota provinsi, Kota Gorontalo, yang menjadi pusat denyut ekonomi ini dinilai telah mencapai fase jenuh atau titik kulminasi maksimum dalam perkembangannya.
Hal tersebut dipaparkan oleh Syarwani Canon, pakar ekonomi wilayah dari Tim Peneliti Kajian Aglomerasi Kota Gorontalo, Senin, 29 Desember 2025 kemarin.
Baca juga: UMP 2026: Gaji di Gorontalo Tembus Rp3,4 Juta, Kalahkan Jawa Barat!
Syarwani, yang memiliki rekam jejak dalam riset pengembangan wilayah Kota Manado, menyoroti sempitnya ruang gerak pembangunan akibat batas wilayah administratif.
Menurutnya, tanpa perluasan ruang, upaya pembangunan apa pun akan sulit mencapai hasil ideal.
“Dengan limitasi luasan administratif seperti saat ini dan berbagai intervensi yang dilakukan, hasilnya tetaplah tidak akan maksimal,” tegas Syarwani.
Baca juga: Atlet Asal Gorontalo Peraih Medali di SEA Games 2025 Thailand Dapat Bonus dari Pemerintah
Secara akademik, kebutuhan akan perluasan wilayah (ekstensifikasi) menempati prioritas tertinggi dengan bobot rekomendasi sebesar 4,5.
Angka ini mengungguli urgensi perbaikan tata kelola (bobot 4,25) dan intensifikasi (bobot 3,67).
Artinya, kolaborasi untuk mengatasi keterbatasan lahan menjadi kunci utama sebelum melangkah ke perbaikan manajemen kota.
Baca juga: Anggaran Perjalanan Dinas ASN Kota Gorontalo 2026 Dipusatkan Satu Pintu
Syarwani memberikan bukti nyata bagaimana infrastruktur kota saat ini mulai kewalahan.
“Saat ini saja kita bisa mencermati beberapa fasilitas umum dan sosial, bahkan infrastruktur penunjang sudah tidak bisa lagi diakomodir oleh kapasitas dan daya tampung kota Gorontalo,” tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pemprov Gorontalo