GORONTALO – Setiap orang punya hati, tapi tidak semua hati punya arah yang sama. Ada hati yang lembut dan penuh cahaya, ada pula yang perlahan mengeras hingga mati.
Inilah yang dijelaskan oleh Ustadi Hamsah, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dalam ceramahnya di Masjid KH Sudja, Yogyakarta.
Baca juga: Command Center Bakal Dijadikan Pusat Data di Gorontalo, Apa Itu?
Menurut Ustadi, hati adalah anugerah besar dari Allah yang harus dijaga dan disyukuri.
Ia mengingatkan umat agar tidak menjadikan hati sekadar alat untuk mengejar urusan dunia, tapi sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam ceramahnya, ia mengutip Surah An-Nahl ayat 78 dan Al-Mu’minun ayat 78 yang menjelaskan bahwa manusia lahir tanpa mengetahui apa pun, lalu diberi pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar mampu bersyukur.
Baca juga: BMKG Bilang Cuaca Lagi Panas-Panasnya! Jangan Sok Kuat Jalan di Bawah Terik Jam Segini
Makna Syukur yang Sebenarnya
Ustadi Hamsah menegaskan bahwa syukur bukan sekadar acara makan-makan atau tradisi syukuran.
Syukur sejati adalah menggunakan setiap nikmat dari Allah, termasuk waktu, tenaga, dan hati untuk berbuat baik dan meningkatkan kualitas ibadah.
“Kalau kita manfaatkan anugerah Allah untuk ibadah dan kebaikan, itu baru namanya syukur,” jelasnya.
Baca juga: Suhu Panas Landa Sejumlah Wilayah di Indonesia Termasuk Gorontalo, Diprediksi Sampai Awal November
Berbagi makanan tentu baik, tapi makna syukur tidak boleh berhenti di sana.
Hati yang bersyukur adalah hati yang hidup, yang terus berusaha menebar manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tiga Tingkatan Hati Menurut Islam
Ustadi kemudian mengibaratkan hati manusia seperti tanah yang disiram hujan, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis.
Dari perumpamaan itu, beliau menjelaskan ada tiga jenis hati.
Pertama hati yang subur. Hati ini mampu menyerap ilmu dan petunjuk Allah lalu menumbuhkan amal saleh.
Pemilik hati seperti ini senang berzikir, menjauhi iri, sombong, dan merasa bersalah saat berbuat dosa.
Kedua, hati yang sakit. Hati jenis ini bisa menerima kebaikan, tetapi tidak bertahan lama.
Kebaikan yang masuk cepat hilang karena mulai diselimuti penyakit hati seperti riya dan ujub.
Ketiga, hati yang mati. Ini hati yang tertutup dari cahaya petunjuk. Tidak suka zikir, nyaman dalam maksiat, dan tak merasa bersalah saat berbuat dosa.
Setiap dosa, kata Ustadi, akan meninggalkan titik hitam di hati.
Jika dibiarkan tanpa taubat, titik itu akan menumpuk menjadi karat yang menutup cahaya iman.
Cara Menjaga Hati agar Tetap Hidup
Menurut Ustadi Hamsah, menjaga hati agar tetap hidup bisa dimulai dari hal sederhana yakni introspeksi diri, banyak berzikir, dan memperbanyak taubat.
Ia mengingatkan, hati yang sehat adalah hati yang terus belajar mengakui kesalahan dan tidak berhenti memperbaiki diri.
"Semoga Allah menjaga kita dari hati yang mati, dan menjadikan hati kita seperti tanah yang subur, yang bisa menumbuhkan kebaikan dan memberi manfaat bagi banyak orang,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Muhammadiyah