GORONTALO - Dua mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo (UNUGO) berhasil mengembangkan sebuah inovasi sederhana namun fungsional yang mampu mengubah air laut menjadi air tawar.
Inovasi ini menjadi sorotan karena hanya memerlukan biaya di bawah Rp1 juta dan dirakit dalam waktu kurang dari satu minggu.
Muhammad Nur Fajri dan Alfarezi Yudistira Manggo, mahasiswa dari Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi UNUGO, adalah pencetus ide tersebut.
Baca juga: Pasar Sentral Kota Gorontalo Bakal Dioptimalkan Lagi, Kios Tak Ditempati Terancam Dialihkan
Mereka menggunakan peralatan yang sangat sederhana, yaitu water heater dan tenaga surya, sebagai sumber panas untuk menyuling air laut.
“Parameter pH untuk menguji tingkat keasaman air, Salinitas untuk pengujian kadar garam, dan TDS untuk menguji kandungan garam yang terlarut,” jelas Fajri.
Hasil Sulingan Bisa Dipakai untuk Kebutuhan Dasar
Ia menambahkan bahwa berdasarkan ketiga parameter tersebut, air hasil sulingan dinyatakan layak untuk dikategorikan sebagai air tawar dan dapat digunakan dalam kebutuhan dasar.
Baca juga: Sekolah Khatib Hadir di Gorontalo, Cetak Khatib Muda Moderat dan Berkualitas
Alfarezi, rekan satu tim Fajri, turut menjelaskan bahwa metode pemanasan yang digunakan sangat mempengaruhi volume air tawar yang dihasilkan.
Ia membandingkan efektivitas pemanasan menggunakan tenaga matahari dan water heater.
“Kalau kita pakai alat, itu proses penyulingannya lebih cepat dengan menghasilkan air tawar yang cukup banyak, dan kalau pakai tenaga surya tingkat hasil air tawar lebih sedikit, karena prosesnya agak lama,” terang Alfarezi.
Ia menjelaskan bahwa dengan tenaga surya, proses penyulingan berlangsung sekitar 5 hingga 6 jam untuk menghasilkan kurang lebih 250 ml air tawar.
Baca juga: Polisi Tangkap Mahasiswa Terduga Pelaku Penganiayaan di Gorontalo
Sedangkan dengan water heater, volume air yang dihasilkan bisa mencapai 1 liter dalam durasi waktu yang sama.
Masih Bisa Dikembangkan
Lebih lanjut, Alfarezi menilai bahwa inovasi ini masih memiliki ruang besar untuk pengembangan ke arah yang lebih efisien.
“Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif untuk mengatasi permasalahan kekurangan air bersih, khususnya di daerah pesisir dan kepulauan,” tutupnya.
Dengan biaya terjangkau dan teknologi sederhana, karya dua mahasiswa ini menunjukkan bahwa inovasi tak harus mahal.
Namun tetap dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat, terutama di daerah yang mengalami keterbatasan akses air bersih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan