Dua orang anak menyalakan lampu botol saat perayaan Tumbilotohe di Gorontalo (Tomy Pramono)
GORONTALO — Menjelang akhir bulan suci Ramadan, suasana di Provinsi Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya yang menakjubkan. Tradisi ini dikenal dengan nama Tumbilotohe.
Secara etimologi, nama ini berasal dari dua suku kata, yakni tumbilo yang berarti pasang dan tohe yang berarti lampu.
Jika digabungkan, Tumbilotohe secara harfiah bermakna pasang lampu.
Baca juga: 20 Ucapan Selamat Buka Puasa 2026: Hangat dan Penuh Makna
Tradisi yang diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-15 ini bukan sekadar festival cahaya biasa.
Di balik keindahannya, terdapat tiga tujuan utama mengapa masyarakat Gorontalo melestarikan laku budaya ini secara turun-temurun.
Pada masa lampau, akses penerangan di Gorontalo masih sangat minim. Masyarakat secara sukarela menyalakan lampu botol (lampu minyak) di sepanjang jalan.
Baca juga: Bukan Wajib, tapi Sunnah: Ini 4 Hal tentang Salat Tarawih yang Wajib Kamu Tahu
Hal ini dilakukan untuk membantu warga lainnya yang ingin melaksanakan ibadah salat malam di masjid dengan lebih aman dan nyaman.
Tumbilotohe memiliki kaitan erat dengan tradisi Mo Luhuta Pitara atau pembayaran zakat fitrah.
Uniknya, jumlah lampu yang dipasang di depan rumah berfungsi sebagai indikator bagi petugas amilin.
Baca juga: 6 Kue Favorit Buka Puasa di Gorontalo: Gurih, Manis, dan Bikin Nagih
Misalnya, jika terdapat 10 lampu di halaman sebuah rumah, itu menandakan ada 10 orang wajib zakat di rumah tersebut.
Hal ini memudahkan para petugas untuk mendeteksi jumlah pembayar zakat secara akurat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber