Ilustrasi orang salat tarawih di bulan Ramadan (Istimewa)
GORONTALO — Setiap kali hilal Ramadan tampak, suasana masjid seketika berubah menjadi lebih hidup.
Saf-saf penuh sesak, dan lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu mengiringi salah satu ibadah paling ikonis di bulan suci ini yakni Salat Tarawih.
Meski telah menjadi rutinitas tahunan, sering kali muncul diskusi mengenai dasar hukum, jumlah rakaat, hingga waktu terbaik pelaksanaannya.
Baca juga: 6 Kue Favorit Buka Puasa di Gorontalo: Gurih, Manis, dan Bikin Nagih
Merujuk pada hadis-hadis sahih, berikut adalah empat poin krusial yang perlu kita pahami agar ibadah Tarawih kita semakin mantap.
Banyak yang merasa terbebani jika melewatkan satu malam tanpa Tarawih seolah-olah puasanya tidak sempurna.
Namun, sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW justru pernah sengaja tidak keluar ke masjid untuk mengimami Tarawih.
Baca juga: Panduan Lengkap Shalat Tarawih: Niat, Jumlah Rakaat, dan Tata Caranya
Dalam riwayat Aisyah RA, Nabi SAW berhenti mengimami jamaah di malam ketiga atau keempat karena khawatir jika dilakukan terus-menerus, umat Islam akan menganggap Tarawih sebagai kewajiban yang memberatkan (HR. Bukhari).
Ini adalah bentuk kasih sayang beliau agar umatnya menjalankan ibadah ini sebagai pilihan yang penuh keridaan, bukan beban syariat.
Rasulullah SAW tidak menjadikan salat Tarawih secara berjamaah di masjid sebagai rutinitas harian yang mutlak sepanjang bulan.
Baca juga: Pemerintah Kabupaten Gorontalo Akan Gelar Tonggeyamo Hari Ini
Hal ini diperjelas dalam hadis Abu Dzar RA yang menyebutkan bahwa Nabi SAW tidak mengimami para sahabat setiap malam.
Baru pada sisa tujuh malam terakhir Ramadan, beliau mulai mengimami jamaah dalam durasi yang cukup panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Muhammadiyah