Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 22 DESEMBER 2025 • 08:54 WIB

Jika Hari Ibu adalah Tubuh Pergerakan Perempuan, Pemikiran Kartini adalah Jiwanya

Jika Hari Ibu adalah Tubuh Pergerakan Perempuan, Pemikiran Kartini adalah JiwanyaRaden Ajeng Kartini, salah satu tokoh perempuan Indonesia (Australia Plus ABC)

GORONTALO – Hari ini, Senin, 22 Desember 2025, lini masa kita mungkin dipenuhi ucapan manis dan foto bunga untuk memperingati Hari Ibu

Tidak ada yang salah dengan itu, tapi jika kita menyelami sejarah lebih dalam, Hari Ibu di Indonesia sejatinya bukanlah perayaan domestik semata.

Momen Hari Ibu di Indonesia adalah sebuah peringatan akan sebuah pergerakan politik yang gagah berani.

Baca juga: Sejarah Hari Ibu: Monumen Politik dan Pergerakan Kaum Perempuan di Tanah Air

Semangat yang meletup pada Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928 di Yogyakarta itu tidak muncul dari ruang hampa.

Ia adalah akumulasi dari api perlawanan yang sebelumnya telah dinyalakan oleh perempuan-perempuan hebat, salah satunya Raden Ajeng Kartini.

Jika Hari Ibu adalah tubuh pergerakannya, maka pemikiran Kartini adalah jiwanya.

Baca juga: Rumah Rasa Hotel: 5 Trik Sulap Hunian Jadi Spot 'Staycation' Mewah Tanpa Bikin Dompet Jebol

Dari Getir Menjadi Getar

Banyak orang mengenal Kartini lewat frasa legendaris “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Itu adalah judul buku kumpulan surat Kartini yang disusun Mr. J.H. Abendanon. Namun, di balik surat-surat itu, tersimpan sebuah transformasi emosi yang luar biasa.

Ada getir yang dirasakan Kartini. Getir akibat kungkungan adat Jawa masa lalu. Getir karena tradisi pingitan yang memaksanya mengubur mimpi melihat dunia luar di usia 15 tahun. Getir karena harus menelan realitas poligami dan pernikahan paksa.

Namun, sejarah mencatat bahwa Kartini tidak larut dalam kesedihan. Ia mengubah getir itu menjadi getar intelektual yang mampu dirasakan daratan Jawa, bahkan dunia, hingga detik ini.

Baca juga: Wagub Gorontalo: Tekan Angka Stunting? Cegah Nikah Dini adalah Kunci

Melawan Lewat Tulisan dan Pendidikan

Sama seperti para ibu di tahun 1928 yang bersatu lewat organisasi, Kartini memilih jalannya sendiri: melawan lewat tulisan. Ia melahap buku, koran, dan majalah Eropa. Sel-sel perlawanannya terbentuk dari literasi.

Tulisannya yang tajam menembus batas geografis, dimuat di De Echo dan De Locomotief. 

Ia berkorespondensi dengan feminis Eropa seperti Stella M. Zeehandelaar, bertukar pikiran tentang kesetaraan yang kala itu dianggap tabu.

Tak berhenti di pena, Kartini bergerak nyata. Bersama adiknya, Roekmini, ia mendirikan sekolah untuk perempuan pada Juni 1903. Ia sadar, perempuan Jawa harus dididik.

Seperti yang ia tuliskan, perempuan harus turut serta dalam pekerjaan raksasa: pendidikan bangsa yang berjuta-juta.

Visi inilah yang kemudian diadopsi sempurna oleh Kongres Perempuan 1928 yang melahirkan Hari Ibu.

Mereka sepakat bahwa perempuan tidak bisa menjadi Ibu Bangsa yang mencetak generasi merdeka jika perempuan itu sendiri masih bodoh dan tertindas.

Cinta Ada Apanya Kartini

Ada satu benang merah terkuat antara Kartini dan peringatan Hari Ibu hari ini, yakni Cinta*. Namun, bukan cinta yang buta atau pasrah.

Cinta Kartini kepada kaumnya adalah cinta yang memiliki syarat dan tujuan. Bisa dibilang, cinta ada apanya. 

Di mata Kartini, kaum perempuan punya kekuatan besar yang mampu mengubah dunia. 

Cintanya adalah keinginan melihat perempuan diberdayakan, bukan diperdayakan.

Hari ini, saat kita memperingati Hari Ibu, kita sedang merayakan cinta ada apanya tersebut. 

Sebuah cinta yang menuntut kemajuan, menuntut kesetaraan, dan menuntut peran serta dalam pembangunan bangsa.

Maka, merayakan Hari Ibu di tahun 2025 ini sebaiknya tidak sekadar berhenti pada seremonial. Kita perlu mewarisi getar yang diciptakan Kartini dan diteruskan oleh Kongres Perempuan 1928. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Jika Hari Ibu adalah Tubuh Pergerakan Perempuan, Pemikiran Kartini adalah Jiwanya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!