Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 14 NOVEMBER 2025 • 12:57 WIB

November: Bulan Bahagia Bung Hatta

November: Bulan Bahagia Bung HattaBung Hatta, yang dikenal minim pengalaman asmara akhirnya menikahi istrinya pada bulan November 1945 (Istimewa)

GORONTALO – Mohamad Hatta, sang proklamator yang dikenal dengan kesederhanaannya, selalu menyajikan kisah hidup yang jauh dari gemerlap. 

Tokoh kelahiran 12 Agustus 1902 ini terkenal dengan fokusnya yang total pada pergerakan nasional, dan minim pengalaman asmara. Namun, di balik sikapnya yang dingin terhadap perempuan, terdapat satu janji legendaris: pantang menikah sebelum Indonesia merdeka.

November menjadi bulan bersejarah bagi Bung Hatta karena pada bulan inilah janji saktinya berakhir dan ia meresmikan kebahagiaannya.

Baca juga: Filosofi Kehidupan: 5 Fakta Pahit yang Harus Diterima Biar Hidup Dewasa Lebih Realistis

Kisah Cinta yang Berawal dari Janji Sakti

Hatta menghabiskan masa lajangnya di dunia pergerakan dan buku. Ia dikenal sebagai aktivis yang paling banyak membaca dan aktif menulis pemikirannya di berbagai media. Berdasarkan buku Hatta Jejak yang Melampaui Zaman (Tempo), saking fokusnya, muncul anekdot yang menyebut kekasih Hatta adalah buku.

Hatta bahkan pernah dengan sengaja membercaki tangannya dengan tinta hanya untuk menolak ajakan dansa, demi tidak mengganggu jam membacanya. 

Kisah lain diceritakan oleh Soekarno, yang tahu betul betapa Hatta menjaga jarak dari perempuan. Soekarno pernah berujar, jika Hatta mogok mobil bersama seorang wanita di tempat terpencil, keduanya akan ditemukan tidur pulas di sudut yang berjauhan.

Baca juga: Ambil Foto Jurnalis Tanpa Izin hingga Tantang Dipolisikan, Ka Kuhu Resmi Dilaporkan ke Polda Gorontalo

Bahkan ketika teman-temannya di Belanda pernah menjebaknya dengan mengatur makan malam bersama seorang gadis Polandia, tidak terjadi apa-apa. Si gadis menyerah dan menjawab Hatta "seperti pendeta," karena Hatta sama sekali tidak tergoda.

Janji Berakhir, Soekarno Turun Tangan

Kemerdekaan Indonesia pada Jumat, 17 Agustus 1945, menjadi hari bersejarah ganda bagi Bung Hatta. Selain meraih kedaulatan bangsa, janji saktinya pun berakhir. Ia melamar Rahmi Rachim, seorang perempuan yang terpaut usia 26 tahun dengannya.

Dalam buku Hatta, Hikayat Cinta dan Kemerdekaan (2010), terungkap bahwa pertemuan pertama Hatta dan Rahmi Rachim sebenarnya terjadi dua tahun sebelumnya di jamuan makan malam di rumah Sartono. Pertemuan yang diadakan untuk merayakan kepulangan Soekarno dari pengasingan di Bengkulu ini, menjadi momen Hatta menambatkan hati pada pandangan pertama.

Baca juga: Belajar dari Kasus Anggota DPRD Gorontalo, Mustafa Yasin: Ini 7 Tips Lolos dari Penipuan Haji

Pertemuan inilah yang disinggung Hatta, dan membuat Soekarno bertindak sebagai 'biro jodoh'. Soekarno lantas menemui orang tua Rahmi, Abdul Rachim dan Annie Rachim, untuk meminang putri mereka bagi Bung Hatta.

November Bulan Bahagia

Keluarga Rahmi sempat ragu karena perbedaan usia yang signifikan. Namun, Soekarno meyakinkan Rahmi: "Aku mengenal Hatta sebagai sahabat dan seorang pemimpin yang baik. Ia benar-benar orang yang sangat baik. Engkau tidak akan menyesalinya."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku Tempo, Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

November: Bulan Bahagia Bung Hatta

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!