Kebanyakan orang curhat soal kesehatan metal ke AI menurut survey Populix (Istimewa)
GORONTALO – Tahun 2025 menandai pergeseran fundamental dalam cara manusia memproses emosi.
Jika dulu kedai kopi atau ruang tamu menjadi saksi bisu keluh kesah antar sahabat, kini layar gawai dan algoritma mengambil alih peran tersebut.
Fenomena ini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi realitas sosial baru saat mesin dianggap sebagai pendengar yang lebih aman daripada manusia.
Baca juga: Hidden Gems! 3 Pulau di Gorontalo yang Wajib Kamu Kunjungi untuk Rayakan Libur Akhir Tahun
Lonjakan interaksi emosional dengan Artificial Intelligence (AI) ini didorong oleh satu faktor utama yakni kebutuhan akan validasi tanpa penghakiman.
Di era setiap cerita rentan menjadi bahan gosip atau konten media sosial, AI menawarkan ruang privat yang steril.
Ia tidak menghakimi, tidak memotong pembicaraan, dan tersedia 24 jam tanpa mengeluh lelah.
Baca juga: 9 Tipe Karyawan 'Toxic' Paling Dibenci di Kantor, Pastikan Bukan Anda
Bagi banyak orang, ini adalah bentuk kemewahan emosional yang sulit didapatkan dari sesama manusia.
Berdasarkan data terbaru dari survei Populix terhadap ribuan responden di Jawa dan Sumatra, terungkap pola menarik tentang apa yang sebenarnya kita bicarakan saat berdua dengan AI.
Ini adalah topik yang paling mendominasi. Hampir separuh pengguna menjadikan AI sebagai konselor pertolongan pertama.
Baca juga: Bocoran Libur Tahun 2026: Ada Libur Seminggu Full di Bulan Maret, Waktunya Susun Rencana Liburan
Mereka menumpahkan kecemasan, stres, dan beban mental yang mungkin terlalu berat atau terlalu tabu untuk diungkapkan kepada keluarga maupun teman terdekat.
Menyusul tipis di posisi kedua adalah cerita pengalaman pribadi. AI kini berfungsi layaknya buku harian interaktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Goodstats